Wednesday, 11 June 2008

Kisah-kisah bersama kijang (saat mahasiswi)...


Saya senang mengendarai Toyota Kijang karena body mobil yang besar. Maklum saya sendiri badannya lumayan besar, jadi rasanya seperti raksasa kalau harus keluar dari mobil kecil. Naik kijang lebih seimbang...

Sebenarnya waktu kuliah tidak naik kijang, saya lebih sering naik mobil sedan. Tapi untuk urusan kegiatan mahasiswa terkadang kami terpaksa minta izin pinjam mobil kijang ayahku. Maklum kalau dengan sedan agak sulit membawa properti yang besar. Pernah suatu ketika saya meminjamkan mobilku ke seorang teman yang sedang bertugas mencari dana, saat itu saya tidak ikut dalam mobil itu. Eh tidak dinyana ayahku melihat mobil yang seharusnya dikendarai putrinya berjalan di jalan tanpa sang putri di dalamnya. Tentu saja saya kena tegur.

Belum kapok juga, sekali lagi mobil itu saya pinjamkan ketika kepepet untuk mengantarkan parsel untuk mencari dana tambahan kegiatan. Tidak ada waktu untuk minta izin...lah waktu itu HP belum zaman! Sial benar, temanku nabrak sepeda motor entah ketabrak atau memang dia yang nabrak, yang penting harus pertanggung-jawaban ke orang tuaku! Waduh, rasanya kebingungan benar karena waktu meminjam saya tidak bilang sama sekali bahwa mobil itu akan dipakai orang lain...

Kegiatan waktu itu melibatkan dua sekolah, universitas Trisakti dan LPK Tarakanita, jadilah dua orang wakil dari Unit Kegiatan di kedua universitas itu menemaniku menghadap ayahku untuk pertanggung-jawaban "dosa"...Ayahku nggak minta diganti sih...cuma harap maklum saja kalau kami dapat kuliah gratis soal tanggung jawab dan etika pinjam meminjam....he...he...he...

Kijang memang paling canggih dalam mengangkut banyak orang. Jadi ketika akan ujian akhir dan kami akan ke Bandung mencari data ke perpustakaan Parahyangan dan ITB, lagi-lagi teman yang punya kijang yang berjasa jadi sarana transportasi kami...
Ya lumayan deh, dari yang fungsional sampai yang per"keceng"an bisa berjalan mulus.

Adikku kemudian juga identik dengan kijangnya, kijang dia waktu itu berwarna merah marun, belakangan diganti warna merah cerah. Dan jadilah dia ikutan memerahkan Jakarta ketika masa-masa kampanye berlangsung...satu kijang memang bisa mengangkut se RT!

Pernah juga aku panik kehilangan kijang, bukan seperti Laksmana yang terus memburu kijangnya ke dalam hutan...aku malah terpekur kebingungan karena kijangku yang diparkir di tepi jalan di depan Trisakti menghilang. Rupanya ada penertiban parkir, tapi karena yang menertibkan sudah pergi maka banyak mobil sudah parkir lagi di depan kampus. Sementara itu aku pusing tujuh keliling karena mobilku yang tadi terparkir di situ sudah berganti rupa. Oalah...rupanya mobilku kena derek ke Komdak...hu..hu...hu...panik habis soalnya saya kira yang ngambil maling mobil biasa...

2 comments:

mer said...

haha ini tulisan menarik muncul tak disangka2...

jadi ingat 2 iklan Kijang yang fenomenal.... satu yg "ada mamah, ada papah, ada nenek..dll" dan yg aksen bali "44 ribu"!!

kijang itu semacam ikon budaya kontemporer juga ternyata....

Retty N. Hakim said...

he..he..he...sebenarnya blog ini buat berita-berita, maunya menghindari cerita pribadi...ternyata, berburu hadiah untuk blogger nikin aku terpaksa melanggar banyak aturan di blog buatan sendiri. Mudah-mudahan nanti sempat dirapihkan, soalnya ini benar-benar jadi blog gado-gado!