Wednesday, 23 July 2008

Kijang dan Visit Indonesia Year 2008



Tahu tidak hubungan antara mobil kijang dan Visit Indonesia Year 2008? Ada hubungan erat antara kedua hal itu, karena bila tamu keluarga berdatangan maka mobil kijang menjadi sangat dibutuhkan. Kali ini bukan bercerita tentang perjalanan jauh ke luar kota, atau kisah menginap di “pulau air”, tapi sekedar berbagi kisah acara kumpul keluarga.

Hari Minggu kemarin, saya terpesona juga melihat kijang-kijang berkumpul di halaman rumah orang-tuaku, ada juga yang merumput…he..he..he…karena terpaksa harus naik ke halaman rumput. Ceritanya hari itu ada reuni kecil keluarga secara tidak resmi.

Seorang sepupu yang bekerja di perusahaan multinasional dan sedang bertugas di Amerika datang berlibur dengan istri dan salah seorang anaknya. Ibunya datang dari Makassar ke Jakarta, lumayan bisa bertemu anak dan cucu setelah sekian lama hanya berkabar melalui telpon.

Seorang tante yang lain, punya keluarga yang “internasional”. Satu sepupuku menikah dengan pria Perancis, yang seorang lagi menikah dengan pria Amerika, sementara adiknya yang paling kecil menikahi gadis Amerika. Untungnya si sulung masih kebagian produksi dalam negeri, nona Menado. Kebetulan menantu Perancis dan si bungsu beserta istri tidak bisa datang, tapi coba bayangkan kalau keluarga ini sudah berkumpul dengan segala keragamannya. Anak saya sedikit heran karena punya sepupu bule yang tidak bisa berbahasa Inggris. Maklum, anak sepupuku yang dari Perancis cuma bisa bahasa Perancis dan Arab (karena mereka agak lama di Maroko). Mobil si sulung yang kijang jadi andalan mereka dalam bepergian beramai-ramai (dan hemat energi).

Minggu pagi itu, keluarga Amerika yang terdiri dari bapak, ibu, dan dua orang putra kecilnya berangkat berlibur ke Bali dengan pesawat. Tidak disangka, pesawat delay dan mereka sudah menunggu di bandara Soekarno Hatta dari jam 7.00 pagi sampai jam 11.00 siang tanpa kejelasan kapan berangkat. Pikir-pikir, kalau mereka berangkat naik mobil Kijang tentunya sudah cukup jauh perjalanannya. Kalau mereka berjalan lewat jalur Selatan tentunya Bandung sudah terlewati, belum lagi mereka bisa melihat-lihat pemandangan di jalan. Entah jam berapa akhirnya baru mereka berangkat, kasihan juga anak-anak kecil mereka pasti bosan menunggu di bandara.

Ketika tamu-tamu bubar jalan untuk melanjutkan perjalanan masing-masing, saya sempat iseng bertanya pada seorang sepupuku yang memiliki mobil kijang: “Kenapa kamu pilih kijang ini?” Dia menjawab: “Soalnya, dari dalam mobil tidak terlalu keras suara mesinnya. Biasanya mobil diesel kencang bunyinya.” Hah? Saya sedikit melongo karena saya tidak sadar kalau mobil dia itu pakai solar bukan bensin. “Biasanya mobil solar bau sekali asap knalpotnya, kok ini tidak ya?!” kataku. Walaupun tidak memperhatikan tipe mobil, biasanya saya selalu terganggu dengan bau solar yang bisa membuatku sakit kepala.

Tapi saya lupa bertanya apakah mobilnya juga perlu membuka satu pintu ketika menutup pintu bagasi supaya bisa tertutup kencang. Ini salah satu kelemahan kijangku dan kijang ayahku, sampai-sampai setiap kali menutup pintu bagasi kami terbiasa membanting pintu keras-keras. Tentunya menjadi tertawaan ketika kami menutup pintu bagasi mobil orang tanpa mengingat kalau itu bukan kijang kami.
Jadilah kijang-kijang lincah ini akan bertugas mengantar tamu-tamu dari luar negeri untuk melancong di Indonesia. Rute mereka selain Bandung (tentunya tujuan utama ke Cihampelas) juga ke Puncak, dan berbagai tempat rekreasi di Jabodetabek. Sepertinya Mangga Dua juga akan masuk dalam agenda mereka, karena biar sudah tinggal di luar negeri, tetap saja selera sepupu-sepupu perempuanku itu khas Indonesia…wisata belanja!

Bulan September mendatang giliranku yang menerima tamu dari Australia. Kakak iparku menikah dengan pria Australia, dan mereka akan datang bersama dua orang putrinya ke Jakarta. Kalau mereka tinggal cukup lama disini, maka bisa jadi kami ikutan konvoi orang mudik Lebaran di awal Oktober nanti.

Beberapa tahun yang lalu ketika mereka datang, pernah juga kami berbaris dalam antrian panjang mobil-mobil mudik. Saat itu kami hanya bertujuan ke Puncak, tapi mau tidak mau harus antri bersama mobil-mobil yang akan pulang kampung. Yang menyetir harus lebih hati-hati karena kondisi seperti ini memerlukan banyak main kopling dan gas. Kalau kurang piawai bisa-bisa koplingnya habis. Tapi toh, kami tidak terlalu khawatir juga. Bukan hanya karena yang menyetir benar-benar menguasai mobil, tapi juga karena tenda-tenda bengkel resmi dari Toyota untuk membantu konsumennya banyak tersedia di tepi jalan. Rasanya perjalanan jadi lebih mantap dan aman!

Jadi karena Indonesia sudah mencanangkan tahun 2008 sebagai Visit Indonesia Year, dan rupanya banyak juga yang rindu kampung halaman dan sanak saudara, maka saya hanya bisa berkata; “Selamat datang, kijangku siap melayani kalian!”

Monday, 21 July 2008

Nelson Mandela Promosi Batik

Minggu, 20-07-2008 09:09:02 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Opini

Hari Jumat, 18 Juli 2008, banyak harian cetak ibukota yang mengangkat berita ulang tahun tokoh dunia dari Afrika Selatan, Nelson Mandela. Hari itu hari ulang tahunnya yang ke-90.

Mandela, yang pernah dipenjara selama 27 tahun karena menentang politik apartheid ternyata berhasil belajar banyak di dalam penjara. Di Kompas cetak hari Jumat (atau lihat disini) dituliskan bahwa dia mengakui keluar dari penjara sebagai seorang lelaki dewasa. Usianya ketika dimasukkan ke dalam penjara sudah tidak muda, sudah 44 tahun, tapi seperti ditulis di Kompas, dia masuk ke penjara sebagai lelaki yang emosional, keras kepala dan mudah tersinggung, kemudian keluar sebagai sosok yang imbang dan berdisiplin.

Tentu banyak yang meliput ulang tahun Mandela, atau dikenal oleh rakyat Afrika Selatan sebagai Madiba, karena dia adalah presiden kulit hitam pertama. Perhatian ini terlihat dari peluncuran koin dan perangko Nelson Mandela dalam rangka peringatan ulang tahunnya yang ke-90 ini.

Saya sendiri lebih tertarik pada baju batik yang dikenakan Mandela. Pakaian ini tampak dikenakannya pada poster diri, pada perangko, dan juga pada acara ulang tahunnya. Terlihat betapa dia berusaha mengangkat nilai batik Afrika Selatan. Pakaian batik menjadi identik dengan dirinya sehingga ada juga yang menyebutnya “Madiba’s Shirt” (kemeja Madiba). Tentunya hal ini tidak lepas dari promosi Nelson Mandela yang senang memakai batik pada berbagai acara yang diikutinya, termasuk juga pada acara formal.

Jangan heran bila batik juga menjadi sebuah nilai budaya di Afrika Selatan, karena memang menurut hasil penelitian masih ada hubungan budaya dengan Nusantara karena proses migrasi penduduk. Bahkan bahasa Afrikaans yang merupakan satu dari sebelas bahasa resmi di Afrika Selatan memiliki hubungan erat dengan bahasa Melayu. Setidaknya begitu yang pernah saya baca dari penelitian Dr. Ron Witton, seorang Australia yang pernah meneliti hubungan antara bahasa Afrikaans dengan bahasa Melayu.

Tentang bagaimana batik masuk ke Afrika belum pernah secara khusus saya pelajari, tetapi dengan perkembangan batik dengan desain khas Afrika seperti yang terlihat di portal ini, tidak heran bila nantinya bukan hanya Indonesia dan Malaysia yang bisa membanggakan batik. Bahkan dengan semakin memanasnya bumi ini, bukan tidak mungkin batik menjadi pakaian resmi dalam acara formal internasional…mau ikutan promosi?!

Time and me...

There is a time,
when all I want to do is being selfish,
to enjoy my time by being lazy,
and think only for today...for myself.

Time is consuming me...
Or perhaps, it's news that consume me?
News that filled all my precious time?
When I can see things with different eyes?

I saw children grew up,
So fast and unbelievable...
I saw my grannie fighting to keep her old spirit,
So slow and unbelievable...

May be I should stop thinking,
Stop looking around,
Stop voicing my voice,
Just sit, relax, and meditate...

Time is consuming me...
I can feel it gripping his teeth into me.
Hurrying me to do all the errands,
Bothering my mind to quit my meditation...

Time...
I need you but I also become your servant,
Scheduling all the tasks,
Remembering all the important things...

There will be a time when there is no more time for me,
Yet, others will still enjoy theirs.
And all those memories can be kept or fade in time...
Memories of our togetherness, the time and me...

Friday, 18 July 2008

Pemerintah dan Pintu Gerbang Industri Kreatif

Minggu, 13-07-2008 14:04:08 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Opini

Tulisan ini terinspirasi oleh surat pembaca dari seorang seniman bernama Teguh Ostenrik di harian Kompas, Minggu 13 Juli 2008, berjudul Industri Kreatif "Quo Vadis"?

Teguh Ostenrik saya kenal memiliki reputasi internasional sebagai seniman. Dalam Wikipedia berbahasa Perancis namanya disebut dalam kategori pematung Indonesia. Tentunya masih banyak pematung Indonesia lainnya yang sepatutnya ikut juga disebut dalam ensiklopedi online itu, selain kenyataan bahwa selain mematung Teguh Ostenrik juga melukis.

Bulan Juli 2007 lalu rupanya mas Teguh diundang oleh Artist in Residency Program of Malihom and ABN AMRO di Penang, Malaysia untuk suatu program workshop gabungan seniman internasional dan lokal. Hasil dari program kerjasama para artis internasional ini dipamerkan di Kuala Lumpur dan Singapura. Rupanya kepulangan hasil karyanya ke Indonesia tersangkut di Tanjung Priok, Jakarta. Sementara itu biaya gudang untuk hasil karyanya membengkak menjadi 12 juta rupiah, dan untuk mengeluarkan hasil karya itu dibutuhkan biaya sampai 65 juta rupiah.

Dalam suratnya itu mas Teguh mempertanyakan kepada ibu Mari Pangestu, menteri perdagangan: "Bagaimana kita bisa memperkenalkan hasil kreativitas anak bangsa kepada dunia apabila pintu gerbangnya kecil sekali dan selalu dipersulit agar semakin sempit?"

Sementara kepada pembaca harian itu, ditanyakan apakah ada yang bisa membantu seniman, yang buta dengan seluk beluk urusan administrasi, untuk proses mengeluarkan hasil karyanya dengan selamat kembali ke rumah.

Surat pembaca ini mengingatkan saya akan pentingnya peran pemerintah dalam mengangkat karya anak bangsa ke dunia internasional. Saat ini terlihat dunia seni rupa Indonesia sedang menggeliat bangun, cukup banyak pameran seni rupa yang berlangsung di berbagai pelosok negeri.

Di Jakarta saja cukup banyak kegiatan yang bisa didatangi para pencinta seni rupa Indonesia. Ella Wijt, seorang perupa muda belia, yang belum lama ini saya liput untuk wikimu.com (lihat http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=8946) juga akan diundang ke pameran di luar negeri. Kalau ada yang membaca artikel tersebut di atas, mungkin bisa membaca suratan ketakutan akan kehilangan bakat muda ini setelah dia meneruskan kuliah ke Amerika, tapi memang hal itu adalah hak pribadinya sebagai seniman yang tentunya ingin terus berkembang. Bagi saya dia bukan sekedar membuat burung-burung untuk meniupkan harapan bagi Indonesia, tapi dia juga salah satu dari bagian harapan itu sendiri.

Mengapa ketakutan itu muncul? Karena kesulitan teknis yang dialami mas Teguh di atas bisa jadi akan menjadi beban bagi perkembangan seni rupa di Indonesia. Bukan sekedar bila hal ini menyangkut anak bangsa, tapi bisa jadi hal seperti itu juga terjadi pada pameran perupa asing ke Indonesia. Ketika hal ini terjadi, bagaimana seni rupa Indonesia bisa berkembang?

Ketika berada di Seoul, saya menyaksikan bagaimana masyarakat Seoul dimanjakan dengan pameran seni rupa bermutu dari luar negeri. Sayang waktu saya dihabiskan sepenuhnya untuk forum pertemuan international citizen reporter OhmyNews.com sehingga tidak sempat menyaksikan banyak pameran. Ketika itu yang terbersit di pikiran saya, betapa menyenangkannya bahwa masyarakat yang belum mampu ke luar negeri juga bisa menyaksikan karya perupa terkemuka yang berasal dari museum di luar negeri tanpa harus ke luar negeri.

Pameran kerjasama seperti ini memang juga terjadi di Indonesia. Simak saja pameran fotografi dari kedutaan Mexico yang pernah saya kunjungi di awal tahun ini (lihat http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=5640), atau masih banyak lagi pameran yang tidak sempat saya tuliskan bagi pembaca wikimu.com.

Saya cukup akrab dengan kegiatan berbagai pusat kebudayaan, dan dahulu saya sering membatin melihat usaha dari pemerintah dan pusat kebudayaan pemerintah asing itu untuk mempromosikan para artis muda maupun bakat kreatif yang mereka miliki. Selain promosi ke luar negeri, para calon penggiat industri kreatif ini juga memperoleh pengalaman berharga yang tidak terkira dengan pertemuan mereka pada aspek lain dari kebudayaan di luar kebudayaan yang dikenalnya. Salah satu hal yang masih terekam dalam ingatan saya adalah sebuah pameran di Museum Nasional di tahun 90-an yang antara lain mengangkat karya seorang ibu rumah tangga dari Australia. Betapa penghargaan pemerintahnya kepada bakat seni dan kreativitas seni tidak terpasung pada patokan tertentu.

Ada seniman asing yang saya kenal dari kegiatan di Pusat Kebudayaan Perancis. Menyenangkan untuk melihat dia berkembang dari seniman muda berbakat, terus bereksplorasi dalam berbagai bidang seni, hingga mungkin nantinya tertera dalam nama seniman dunia. Bisakah seniman Indonesia memperoleh kesempatan yang sama?

Terus terang bila fasilitas dari pemerintah Indonesia bisa mengakomodasi promosi seniman muda berbakat, entah dengan kerjasama dengan galeri-galeri atau semata-mata dalam bentuk kegiatan sejenis yang dilakukan di pusat-pusat kebudayaan itu, saya yakin industri kreatif Indonesia akan terus berkembang mendunia.

Prosedur yang jelas dan bantuan pemerintah untuk mempermudah jalur keluar masuknya karya seni ini tentunya tetap memerlukan pengawasan agar tidak terlepas dari masalah bea cukai yang mungkin menjadi hak pemerintah bila pameran yang terlaksana bersifat bisnis. Seniman seringkali "buta" terhadap masalah administrasi dan prosedur hukum atau lainnya. Ada baiknya bila pemerintah menyediakan sarana untuk membantu informasi dalam memperlancar seniman nasional go international. Dengan menetapnya seniman berkualitas internasional di dalam negeri hal ini kedepannya juga bisa menunjang pemasukan devisa!

The Government and the gate of Creative Industry.

Teguh Ostenrik, an Indonesian artist with international reputation wrote a reader's letter in daily Kompas (printed edition, or read it here. He is questioning the procedure of taking out his art works which he produced during his workshop in Malaysia into Indonesia. I'm taking this into wikimu and also into Forum Pembaca Kompas to call attention from the government. It is important that the government helps talented citizen to improve our local quality in producing creative people. And it would also benefit the government if they have their talented citizens stayed here. Unfortunately I did not receive any comments, is it not important? Or is it too sensitive?

Friday, 11 July 2008

Benarkah Perempuan Bertopeng?

Kamis, 10-07-2008 14:11:07 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Gaya Hidup


Pertanyaan ini mengisi benak saya ketika melihat pameran "Daya Perempuan" dalam rangka pembukaan galeri A2A bulan Juni lalu. Ada sebuah lukisan dari pelukis Choiruddin yang membuat saya cukup lama berpikir mengenai hal ini. Dalam lukisannya ia menggambarkan wajah Kartini, tapi di balik bayang Kartini yang retak terlihat juga gambaran wajah Marilyn Monroe.

Sang perupa, saat saya temui kemudian mengatakan bahwa lukisan itu sebagai gambaran perempuan yang merasa ikut mengangkat emansipasi seperti Kartini, tapi sebenarnya masih terikat pada sikap konsumtif dan kepalsuan yang direpresentasi oleh Marilyn Monroe. Sang perupa juga menyitir ucapan Naomi Wolff bahwa wanita terjajah oleh keinginannya sendiri untuk tampil. Gambaran ini juga diungkapkannya melalui sebuah karya berjudul "Kebangkitan Citra Global", dimana perempuan muda yang berseragam SMU ditampilkan memang tidak menggunakan topeng tetapi kepalanya tampak penuh bertaburkan impian Hollywood.



Sebuah lukisan lain yang juga saya temui dalam pameran ini berjudul "Dibalik Ceria Wajahmu" karya Mulyo Gunarso. Lukisan ini menampilkan wajah perempuan yang ditampilkan bak lukisan kanvas yang bagian ujung bawahnya sedikit terkuak dan menguakkan bulu-bulu yang beterbangan. Apakah makna dari lukisan ini? Dari judulnya terbaca betapa keceriaan yang seringkali tampil dalam wajah perempuan bisa jadi hanya sebuah topeng dari kegalauan yang ada di baliknya. Entah apa benar demikian yang dimaksud oleh perupanya.


Masih dalam bulan yang sama, saya melihat sebuah pameran lain di Galeri Nasional, Manifesto Seni Rupa. Sebuah karya tiga dimensi "Mimpi Sang Maestro" karya Suhartono menambah daftar karya yang menampilkan perempuan bermain dengan topeng.



Benarkah perempuan bertopeng? Ataukah sikap hidup yang diturunkan turun temurun dari generasi ke generasi yang membuat perempuan perlu bertopeng? Mungkin ketika kesulitan hidup perlu ditutupi dari hadapan buah hati mereka, maka perempuan memasang topengnya. Ketika suami melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga, di luar rumah perempuan tetap memasang topengnya? Atau ketika tampil di hadapan umum perempuan memasang topeng untuk menutupi kepalsuan hidupnya? Menutupi ketergantungannya pada hal-hal konsumtif? Ataukah itu hanya bagian yang ditangkap oleh perupa lelaki dalam memandang perempuan?

Atau mungkinkah perempuan memainkan topengnya seperti yang diinginkan sang maestro, yang dalam hal ini bisa jadi diterjemahkan sebagai laki-laki? Tidak heran kalau perempuan laris dalam lakon sandiwara. Bukan hanya kecantikannya yang mungkin menawan hati pemirsanya, tapi karena wajahnya secara alami sudah terbiasa memasang topeng? Topeng yang memenuhi hasrat maupun tuntutan orang yang memandanginya?

Bagaimana menurut pandangan anda?

Walking through the galleries and saw how men as artists portrayed women as using a mask made me wandering...Does a woman use a mask by native? A mask to hide her personal problems? A mask to hide her dependency to the consumptive way of life while pretending to be a modern, emancipated woman? This is not exactly the translation of my article in Bahasa Indonesia, but perhaps are the basic questions. Comments came in wikimu said that both women and men are using masks, it is really up to the personality of human being either to join the world of masking our true feeling and intention or not. Writing this note in English made me think of Cybil with her various "faces" (forgot the author's name of this psychological book).

Dari Bermain Lego Kemudian Mencipta Robot

Minggu, 06-07-2008 11:56:59 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Peristiwa

Ketika anak-anak masih kecil, salah satu kesukaan utama mereka tentunya bermain. Bermain lego adalah salah satu kegemaran utama mereka. Lego memang bisa membantu mereka dalam mengembangkan baik kemampuan motorik maupun kemampuan berpikir logis dan peningkatan kretivitas anak.

Ketika saya kecil juga senang bermain balok-balok kayu, mainan yang kemudian berkembang menjadi mainan balok-balok lego. Terkadang orang mengatakan permainan masa kecil itu yang menjadi dasar pemilihan teknik arsitektur sebagai pilihan kuliah saya. Mungkin ada benarnya..., tapi ternyata lego bukan sekedar untuk menciptakan arsitek atau kontraktor, permainan ini juga bisa mendorong anak menjadi pencipta robot maupun progammer komputer.

Itulah yang saya saksikan dari kegiatan Olimpiade Robotik Indonesia 2008 (Indonesian Robotic Olympiad 2008) yang berlangsung saat ini (6 Juli 2008) di Crystal Lagoon, Senayan City, Jakarta. Olimpiade Robotik Indonesia 2008 adalah olimpiade tahunan ke lima yang dipertandingkan di Indonesia. Pemenang dari pertandingan nasional ini akan menjadi duta Indonesia ke Olimpiade Robotik Dunia (World Robotic Olympiad) ke 5 di Yokohama, Jepang.

Acara Olimpiade Robotik Indonesia kali ini sekaligus merupakan pembukaan sebuah pusat komunitas robotik sekaligus sebuah toko dari Mikrobot (lihat http://www.mikrobot.com/). Sebagai penyelenggara tahunan Olimpiade Robotik Indonesia, Mikrobot juga menjadi national partner dari World Robot Olympiad.

Peserta pertandingan ini selain berasal dari Jabodetabek juga datang dari berbagai kota lain di Indonesia seperti Bandung, Surabaya, Surakarta, bahkan dari Medan, Sumatera Utara.

Menarik juga menyaksikan anak-anak usia SD mengikuti persiapan Olimpiade ini kemarin. Seorang ibu yang menunggui anaknya mengatakan betapa beberapa anak tampil santai dan masih seperti bermain, sementara mungkin orang tuanya yang lebih tegang menyaksikan pertandingan itu.

Memang saya lihat para peserta tetap tampil santai dengan gaya mereka masing-masing. Ada yang sudah serius membuka laptop ketika menanti pembukaan pertandingan. Ada juga yang santai bermain atau ngobrol. Penampilan rambut harajuku juga ada terlihat, ada juga seorang peserta dengan penampilan kepang panjang yang menghiasi rambutnya.

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah sedikitnya jumlah anak perempuan yang mengikuti acara ini. Dari 123 peserta junior dan senior hanya ada 4 orang peserta perempuan, dua orang junior dan dua orang senior. Entah apakah minat anak perempuan lebih kecil pada kegiatan robotik atau karena kurangnya dukungan orang tua pada minat anak perempuan pada kegiatan ini.

Dukungan orang tua, sekolah, maupun klub pencinta robotik memang sangat penting dalam pengembangan kreativitas anak-anak ini. Kegiatan ini sebenarnya membutuhkan modal yang cukup besar. Saya beruntung karena sekolah anak saya bekerja sama dengan sebuah lembaga pendidikan robotik sehingga biaya yang ditanggung orang tua dalam memberikan anaknya pengalaman mengenal dunia pembuatan robot dan programnya ini tidak terlalu besar.

Seluruhnya ada 40 tim junior dan 23 tim senior yang bertanding. Satu tim terdiri atas dua orang, walaupun ada juga tiga orang yang bertanding sendirian. Dalam kerja tim memang anak-anak juga diajarkan untuk tidak egois, belajar bekerja sama dan saling membagi tanggung jawab.

Dari empat kali pertandingan pada tahun-tahun sebelumnya terlihat peningkatan prestasi anak-anak Indonesia. Berangkat dari hanya satu tim yang berhasil berangkat ke WRO 2004 di Singapura, setiap tahun terlihat perkembangan yang cukup baik, dilihat dari peningkatan jumlah tim yang bisa mewakili Indonesia di event internasional, maupun hasil yang dicapainya. Tahun 2007 lalu Rubik Solver Robot menerima "Golden Award" dari WRO 2007 di Taipei-Taiwan.

Semoga kegiatan positif seperti ini bisa ditingkatkan. Dan dengan kerjasama berbagai pihak yang memperhatikan pendidikan anak bangsa kegiatan ini bisa menjangkau lebih banyak anak lagi.

Suara Blogger Menggema Dalam Pemasaran Produk

Sabtu, 05-07-2008 06:51:15 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Opini



Suara blogger semakin keras menggema dalam dunia pemasaran. Pendekatan langsung kepada para blogger memang kian terlihat dengan maraknya lomba menulis blog. Hal ini dicermati oleh blog Media Ide, blog yang tahun lalu meraih penghargaan di Pesta Blogger Indonesia 2007 untuk kategori online marketing dan sales.

Kegiatan Toyota Astra Motor (TAM) mengumpulkan suara blogger dalam kegiatan promosi mereka untuk mobil keluaran baru All New Corolla Altis dan produk lama mereka Toyota Kijang meraih penghargaan New Wave Marketing Award Juni 2008 dari Mark Plus, Inc. Penghargaan yang diberikan pada tanggal 24 Juni 2008 di hotel Four Seasons, Jakarta, ini merupakan penghargaan kedua yang dikeluarkan oleh konsultan pemasaran terkemuka Mark Plus, Inc. Bulan lalu perhargaan ini diterima oleh Kompas.com sebagai apresiasi atas usaha Kompas membuat megaportal kompas.com.

New Wave Marketing Award diberikan kepada perusahaan yang melakukan inisiatif kampanye pemasaran, entah melalui media sosial, ekspiriensial, maupun interaktif. Penggunaan Web 2.0 sebagai sarana interactive marketing memang merupakan langkah baru TAM yang oleh Nukman Luthfie digambarkan sebagai sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Bukan hanya perkenalan dengan para blogger yang diperoleh, tapi juga jaringan konsumen serta user insight, disamping mengkampanyekan situs khusus bagi para pemilik mobil Toyota.

Ada sebuah komentar di dalam blog Media Ide yang mempertanyakan kegiatan kompetisi menulis blog. Menurut komentator tersebut, hal ini tidak sesuai dengan sifat dasar blog sebagai media sosial. Lebih lanjut dia memperkirakan akan ada yang mempertanyakan otentisitas dan kredibilitas penulisan yang dihasilkan.

Menurut saya pribadi, penulisan yang otentik dan kredibel akan bisa dirasakan pembaca blog. Apalagi dengan sifat interaktif sebuah blog maka komentar dan balasan komentar akan menambah tajam pembahasan sebuah topik/produk. Yang membedakan kompetisi penulisan dalam media web 2.0 ini dari kompetisi penulisan konvensional adalah tidak adanya peserta yang tersisihkan. Maksud saya, walaupun peserta tersebut tidak berhasil mendapatkan hadiah, tetapi tulisan ataupun curahan hatinya tetap tampil. Hal ini berbeda dengan kompetisi menulis biasa, dimana tulisan yang kalah harus masuk keranjang sampah tanpa pernah terapresiasi oleh pembaca selain juri perlombaan.

Komunikasi antara produsen dan konsumen secara langsung dapat terjadi melalui situs yang dibuat oleh produsen. Media massa konvensional maupun media massa online (termasuk portal citizen journalism) bisa tetap menjadi jembatan dalam memperkenalkan keberadaan situs tersebut. Jembatan ini tetap diperlukan bagi konsumen yang belum mengenal maupun belum berminat kepada sebuah produk atau merek tertentu. Sebuah tulisan yang mengangkat pengalaman pemakai loyal bisa menjadi penggugah untuk mengenali sebuah merek atau produk. Brand awareness memang lebih mudah diraih melalui word of mouth marketing.

Berdasarkan pengalaman saya mengikuti dua buah kompetisi blog, yakni kompetisi menulis blog untuk British Council dan Toyota Kijang, terasa betapa topik yang terangkat bisa mengembang karena komentar dari pembaca maupun loncatan ide setelah membaca kembali isi blog yang saya tulis atau karena memberikan komentar di blog orang lain. Jadi nilai blog sebagai media sosial tidak akan hilang selama pengisi blog berusaha untuk terus objektif dan mengingat fungsi blognya sebagai media sosial. Keterlibatan langsung dalam topik yang diangkat akan membantu menguatkan otentisitas isi tulisan.

Sebagai konsumen tentunya keinginan untuk komunikasi antara konsumen dengan produsen, kejelasan informasi atas pelayanan purna jual, dan perasaan dihargai sebagai pemakai produk akan banyak mewarnai isi tulisan. Bagaimanapun kita tidak bisa melupakan bahwa blog lebih tinggi nilai subyektivitasnya. Justru disitu letak otentisitas sebuah tulisan di blog.

Kredibilitas, dalam pandangan pribadi saya, lebih terasa dalam asahan portal citizen journalism ataupun komunitas blogger. Dalam komunitas tidak ada blogger anonim, setidaknya anggota komunitas akan berusaha mengenal anggota lainnya. Ketika label anonim ditanggalkan (walaupun tetap tampil "tak dikenal" bagi pembaca baru) maka kredibilitas blogger lebih bisa dipertanggung-jawabkan. Harimau mati meninggalkan belang, manusia ingin pergi meninggalkan nama baik...Dalam sebuah komentar di blog saya, Vincent Maher, pengusung teori Citizen Journalism is Dead, mengingatkan betapa pentingnya untuk menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh media online yang sifatnya persisten bila fakta yang digunakan keliru. Dalam hal ini memang perlu disadari oleh para blogger bahwa kekeliruan tersebut juga bisa ikut mencoreng nama baik yang dimilikinya, dan goresan itu bisa bersifat lebih universal dan persisten. Ketika kredibilitas dibutuhkan, sifat anonim blogger terpaksa harus ditanggalkan!

Suara blogger bisa jadi akan lebih keras bergema, bukan sekedar dalam bidang pemasaran produk tapi juga di berbagai bidang seperti sosial dan politik...