I keep encouraging people to blog. For Indonesians, blogging would ask them to write, to put things in their head into writing. Putting our opinions in writing means that we need to think it out, searching for the right words, and in the end enhancing our capability in pouring out our ideas, our feelings, and our needs. Once people realized that they can write, they will keep writing and it will help open the communication gate.
For professionals, blogging is sharing. It opens the universal world into a flat media. Communications between continents are made easier. It will also be more profitable for one's professional's life as long as he/she can use it wisely.
I'd like to write a short note about some blogs here:
Blog Bahtera is a blog from professional translators and those who care about Bahasa Indonesia (so it consists writings in Bahasa Indonesia). It was started as a mailing list, and since June 2009 the coordinator also created its own community blog. Communication is better off through the mailing list. If you do need urgent help in translating a word or a sentence, you'd prefer to be engaged in a quick conversation in the mailing list. Yet, I'm not really blessed with those precious time to keep updating myself with all letters from the mailing lists I subscribe. So, I really appreciate the existence of this blog. I'm now able to come by as a fellow blogger just like a neighbour can come and visit other friends in the neighbourhood. The great aspect of the internet is that we don't need to bother our visiting time. It can even be at midnight if that's the only time available or convenience with our daily time schedule.
This blog is a nice melting pot of experiences, a crossroad of multinationals who care about Bahasa Indonesia. It is also serving as an "encyclopedia" of wisdom transferred from seniors to juniors (it's not necessarily in term of age, but more into professional experiences).
I would also like to mention a blog made by my eldest son's science teacher, IPA Menyenangkan (Science is fun). She tries to put her lessons in a blog, knowing that some of her students are not good in taking notes in her classroom but they have great talents in internet surfing (ehm...I know one of them very well!). She told me that she is asking her students to keep an eye on her blog, give her input either in beautify her blog (for those internet techie) or in adding the content (surely for those who find taking scientific notes and writing it out as an interesting homework). Being a full time teacher and a homemaker with kids she has limited time to blog, but it is great if she can make her students interested in helping her with her blog. She can be the editor of the content, and those kids should try to write on their own, not only copying and pasting information from other blogs.
Yet, the best news I've got is from my friend, Jacob Gautel, who is now sharing his artistic journey in his website. First I've met Jacob through his "Maria Theodora" project supported by CCF (French Cultural Center), an art project that is inline with his quest for his Indonesian root. His quest for completing his family tree evoked some odd feeling for my own "denial" of my Chinese ancestral root. I was also joined his workshop in Singapore. I think we've just met several times before the monetary crises came, the May riot happened (I remembered that he; the one who didn't really keen in answering e-mails, had telephoned me asking for my family situation. A simple call that was like an oasis in the middle of the chaos). Afterward I saw parts of his works through the magic of Mr. Google, or through his participation in other art exhibitions without his presence here. Now having his own presentation of complete works in his web is like exploring another part of his artistic journey.
I hope that we can really use blogs as education and communication tools. It can be a way to educate people about democracy or enriching our knowledge, supporting our creativity (not killing it by doing plagiarism) and starting a communication aiding to a better and peaceful world.
Buah pena or fruit of the pen was started as an online diary of a citizen reporter. Time goes by, and I think being just a blogger is nicer than being a citizen reporter. Yet, it is important to keep a balancing diary. Online diary is kind of reporting too. So, I keep on doing my self experiment on living in the cyber space.
Showing posts with label art. Show all posts
Showing posts with label art. Show all posts
Saturday, 19 December 2009
Friday, 11 July 2008
Benarkah Perempuan Bertopeng?
Kamis, 10-07-2008 14:11:07 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Gaya Hidup

Pertanyaan ini mengisi benak saya ketika melihat pameran "Daya Perempuan" dalam rangka pembukaan galeri A2A bulan Juni lalu. Ada sebuah lukisan dari pelukis Choiruddin yang membuat saya cukup lama berpikir mengenai hal ini. Dalam lukisannya ia menggambarkan wajah Kartini, tapi di balik bayang Kartini yang retak terlihat juga gambaran wajah Marilyn Monroe.
Sang perupa, saat saya temui kemudian mengatakan bahwa lukisan itu sebagai gambaran perempuan yang merasa ikut mengangkat emansipasi seperti Kartini, tapi sebenarnya masih terikat pada sikap konsumtif dan kepalsuan yang direpresentasi oleh Marilyn Monroe. Sang perupa juga menyitir ucapan Naomi Wolff bahwa wanita terjajah oleh keinginannya sendiri untuk tampil. Gambaran ini juga diungkapkannya melalui sebuah karya berjudul "Kebangkitan Citra Global", dimana perempuan muda yang berseragam SMU ditampilkan memang tidak menggunakan topeng tetapi kepalanya tampak penuh bertaburkan impian Hollywood.

Sebuah lukisan lain yang juga saya temui dalam pameran ini berjudul "Dibalik Ceria Wajahmu" karya Mulyo Gunarso. Lukisan ini menampilkan wajah perempuan yang ditampilkan bak lukisan kanvas yang bagian ujung bawahnya sedikit terkuak dan menguakkan bulu-bulu yang beterbangan. Apakah makna dari lukisan ini? Dari judulnya terbaca betapa keceriaan yang seringkali tampil dalam wajah perempuan bisa jadi hanya sebuah topeng dari kegalauan yang ada di baliknya. Entah apa benar demikian yang dimaksud oleh perupanya.

Masih dalam bulan yang sama, saya melihat sebuah pameran lain di Galeri Nasional, Manifesto Seni Rupa. Sebuah karya tiga dimensi "Mimpi Sang Maestro" karya Suhartono menambah daftar karya yang menampilkan perempuan bermain dengan topeng.

Benarkah perempuan bertopeng? Ataukah sikap hidup yang diturunkan turun temurun dari generasi ke generasi yang membuat perempuan perlu bertopeng? Mungkin ketika kesulitan hidup perlu ditutupi dari hadapan buah hati mereka, maka perempuan memasang topengnya. Ketika suami melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga, di luar rumah perempuan tetap memasang topengnya? Atau ketika tampil di hadapan umum perempuan memasang topeng untuk menutupi kepalsuan hidupnya? Menutupi ketergantungannya pada hal-hal konsumtif? Ataukah itu hanya bagian yang ditangkap oleh perupa lelaki dalam memandang perempuan?
Atau mungkinkah perempuan memainkan topengnya seperti yang diinginkan sang maestro, yang dalam hal ini bisa jadi diterjemahkan sebagai laki-laki? Tidak heran kalau perempuan laris dalam lakon sandiwara. Bukan hanya kecantikannya yang mungkin menawan hati pemirsanya, tapi karena wajahnya secara alami sudah terbiasa memasang topeng? Topeng yang memenuhi hasrat maupun tuntutan orang yang memandanginya?
Bagaimana menurut pandangan anda?
Walking through the galleries and saw how men as artists portrayed women as using a mask made me wandering...Does a woman use a mask by native? A mask to hide her personal problems? A mask to hide her dependency to the consumptive way of life while pretending to be a modern, emancipated woman? This is not exactly the translation of my article in Bahasa Indonesia, but perhaps are the basic questions. Comments came in wikimu said that both women and men are using masks, it is really up to the personality of human being either to join the world of masking our true feeling and intention or not. Writing this note in English made me think of Cybil with her various "faces" (forgot the author's name of this psychological book).
Kanal: Gaya Hidup

Pertanyaan ini mengisi benak saya ketika melihat pameran "Daya Perempuan" dalam rangka pembukaan galeri A2A bulan Juni lalu. Ada sebuah lukisan dari pelukis Choiruddin yang membuat saya cukup lama berpikir mengenai hal ini. Dalam lukisannya ia menggambarkan wajah Kartini, tapi di balik bayang Kartini yang retak terlihat juga gambaran wajah Marilyn Monroe.
Sang perupa, saat saya temui kemudian mengatakan bahwa lukisan itu sebagai gambaran perempuan yang merasa ikut mengangkat emansipasi seperti Kartini, tapi sebenarnya masih terikat pada sikap konsumtif dan kepalsuan yang direpresentasi oleh Marilyn Monroe. Sang perupa juga menyitir ucapan Naomi Wolff bahwa wanita terjajah oleh keinginannya sendiri untuk tampil. Gambaran ini juga diungkapkannya melalui sebuah karya berjudul "Kebangkitan Citra Global", dimana perempuan muda yang berseragam SMU ditampilkan memang tidak menggunakan topeng tetapi kepalanya tampak penuh bertaburkan impian Hollywood.

Sebuah lukisan lain yang juga saya temui dalam pameran ini berjudul "Dibalik Ceria Wajahmu" karya Mulyo Gunarso. Lukisan ini menampilkan wajah perempuan yang ditampilkan bak lukisan kanvas yang bagian ujung bawahnya sedikit terkuak dan menguakkan bulu-bulu yang beterbangan. Apakah makna dari lukisan ini? Dari judulnya terbaca betapa keceriaan yang seringkali tampil dalam wajah perempuan bisa jadi hanya sebuah topeng dari kegalauan yang ada di baliknya. Entah apa benar demikian yang dimaksud oleh perupanya.

Masih dalam bulan yang sama, saya melihat sebuah pameran lain di Galeri Nasional, Manifesto Seni Rupa. Sebuah karya tiga dimensi "Mimpi Sang Maestro" karya Suhartono menambah daftar karya yang menampilkan perempuan bermain dengan topeng.

Benarkah perempuan bertopeng? Ataukah sikap hidup yang diturunkan turun temurun dari generasi ke generasi yang membuat perempuan perlu bertopeng? Mungkin ketika kesulitan hidup perlu ditutupi dari hadapan buah hati mereka, maka perempuan memasang topengnya. Ketika suami melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga, di luar rumah perempuan tetap memasang topengnya? Atau ketika tampil di hadapan umum perempuan memasang topeng untuk menutupi kepalsuan hidupnya? Menutupi ketergantungannya pada hal-hal konsumtif? Ataukah itu hanya bagian yang ditangkap oleh perupa lelaki dalam memandang perempuan?
Atau mungkinkah perempuan memainkan topengnya seperti yang diinginkan sang maestro, yang dalam hal ini bisa jadi diterjemahkan sebagai laki-laki? Tidak heran kalau perempuan laris dalam lakon sandiwara. Bukan hanya kecantikannya yang mungkin menawan hati pemirsanya, tapi karena wajahnya secara alami sudah terbiasa memasang topeng? Topeng yang memenuhi hasrat maupun tuntutan orang yang memandanginya?
Bagaimana menurut pandangan anda?
Walking through the galleries and saw how men as artists portrayed women as using a mask made me wandering...Does a woman use a mask by native? A mask to hide her personal problems? A mask to hide her dependency to the consumptive way of life while pretending to be a modern, emancipated woman? This is not exactly the translation of my article in Bahasa Indonesia, but perhaps are the basic questions. Comments came in wikimu said that both women and men are using masks, it is really up to the personality of human being either to join the world of masking our true feeling and intention or not. Writing this note in English made me think of Cybil with her various "faces" (forgot the author's name of this psychological book).
Saturday, 14 June 2008
Ella Wijt, Angin Segar yang Berhembus

A young, beautiful, and inspiring artist; Ella Wijt
Rabu, 11-06-2008 10:53:38 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Peristiwa
Ketika pertama melangkah di depan ruang pameran temporer Museum Nasional, saya berpikir sosok gadis yang sedang memegang kuas itu anak Indo yang sedang pulang kampung. Maklum nama Wijt terdengar asing di telinga saya. Ternyata gadis berusia delapan belas tahun ini sebenarnya bernama Manuela Wijayanti, boleh dibilang nama Ella Wijt adalah singkatan namanya sebagai artis.
Dengan usia belia, wajah manis, bakat yang besar, dan dukungan yang tampaknya juga sangat besar, tak ayal lagi Ella Wijt menjadi angin segar yang berhembus di khazanah seni Indonesia.
Sebenarnya ini bukan pameran tunggal pertamanya, bulan Mei tahun lalu dia sudah pernah berpameran tunggal di Museum Nasional dengan judul pameran "It's Just Been Started" sambil merayakan ulang tahunnya yang ketujuh belas. Usia tujuh belas tahun yang merupakan langkah awalnya ke dalam dunia kedewasaan. Sementara itu dalam pameran kelompok sudah lima kali Ella berpameran bersama seniman lainnya.
Pameran kali ini yang berjudul "Chasing After The Wind", tidak hanya menampilkan karya lukisan Ella melainkan juga menampilkan karya instalasi dengan mengembangkan ide awal dari origami burung bangau Jepang.
Sebagian besar anak, apalagi pencinta film kartun Jepang, pasti tahu makna burung-burung origami Jepang ini. Satu burung mewakili satu permohonan, dan Ella dengan tekun membuat burung-burung beraneka ukuran ini bukan untuk seribu satu permohonan. Dia hanya punya satu permohonan saja, agar bangsa Indonesia selalu damai...
Hanya satu permohonan, tapi sangat sulit untuk dikabulkan. Karena itu Ella memilih mengeluarkan tenaga dan pemikiran besar dalam menciptakan burung-burung bangau dari pelat besi dan aluminiumnya agar usahanya seimbang dengan permohonannya. Hal ini yang mencuri perhatian saya ketika melihat katalog Ella yang berisi foto dirinya sedang mengerjakan burung-burung aluminium itu. Pekerjaan seperti ini sangat membutuhkan konsentrasi tinggi dan ketekunan yang besar, sesuatu yang biasanya masih sangat sulit diharapkan dari gairah muda yang terus bergejolak dan meletup-letup. Dan ternyata Ella sanggup...
Memang karya instalasi Ella dengan suara burung-burung yang menemani saya melihat pameran itu yang sangat menarik perhatian saya. Sementara itu di luar museum bergerak demonstrasi yang anti pembubaran FPI, entah berapa bus yang datang berdemo dari daerah Monas dan Istana ke sepanjang Sudirman-Thamrin. Saya menemukan kenyamanan dan kedamaian di antara pantulan wajah burung-burung bangau origami dan seribu wajah saya sendiri di dalam ruang pamer Ella. Sayang sekali kamera saya tidak berfungsi, saya tidak bisa menyajikan sudut pandang dari balik lensa kamera saya.
Lukisan-lukisan Ella manis menarik sama seperti orangnya, sebagai elemen penghias dekorasi rumah akan sangat menarik. Sayangnya lukisan-lukisan dengan warna ceria dan aliran kontemporer yang pasti laris manis itu bagi saya belum kuat memancarkan pesan pelukisnya.
Lukisan Ella tiba-tiba menjadi lebih berarti ketika saya melangkah masuk ke ruang galeri Cipta III di Taman Ismail Marzuki. Di sana ada pameran lukisan berjudul "Daya Perempuan" yang merupakan hasil karya tujuh perupa berbakat. Mereka berkumpul di sana dalam rangka peresmian A2A Gallery yang akan diadakan tanggal 15 Juni nanti.
Mengapa nilai lukisan Ella bertambah di mata saya? Karena lukisan strawberri-strawberri manis itu ternyata bisa memotivasi seorang perupa lain untuk menghasilkan karya. Adalah Ahmad Sobirin yang dalam pameran "Daya Perempuan" menampilkan sebuah lukisan berjudul "Ela". Ternyata dalam bincang-bincang dengan pak Hendra dari A2A Gallery perupa tersebut mengatakan bahwa Ella adalah sumber inspirasinya.
Saya sendiri sangat tertarik dengan olahan Ahmad Sobirin yang salah satunya menggambarkan sebuah sarung tangan memegang tangkai seperti pena yang bekerja. Saya sempat bertanya-tanya mengapa judul lukisan ini "Ela". Sarung tangan itu ternyata sebuah jeans dengan merk Ela. Dari pak Hendra saya mengetahui betapa sang perupa ini tertarik melihat hasil karya seorang gadis yang baru berusia delapan belas tahun yang bernama Ela. Gadis itu membuatnya kagum karena penguasaan teknik menggambar dan seni yang tinggi. Dan Ela ini ternyata tidak lain adalah Ella Wijt yang pamerannya baru saja saya kunjungi sebelum bertandang ke TIM.
Tidak heran, karena Ella memang sudah mulai corat-coret gambar sejak usia empat tahun dan terus setia mengasah bakatnya. Bakat ini akan lebih terasah lagi karena dia pada tanggal 12 - 27 Juli 2008 akan berpameran di Taiwan dengan sponsor dari Yayasan DR Sun Yat Sen. Setelah itu ia kan berangkat ke Amerika Serikat dalam rangka beasiswa belajar di School of the Art Institute of Chicago.
Rasanya angin segar berhembus menyejukkan, biarlah dia mengalir ke mana dia ingin...tak perlu dijaring, saya yakin suatu saat dia akan kembali berhembus ke pantai yang sama. Dan semoga ketika itu harapan satu-satunya yang diemban burung-burung origami Ella sudah tercapai: Indonesia yang damai!
Catatan:
Buat yang mau lihat pameran Ella masih ada di Gedung Arca, Museum Nasional sampai tanggal 15 Juni 2008.
Foto dari katalog pameran Ella.
Friday, 10 August 2007
Borobudur, Keajaiban Di Hati…
Borobudur is still a forgotten wonder of the world. Seeing a painting exhibition by Rudolf G. Usman in the National Museum triggered me to write this article in Bahasa for Wikimu.com
Wednesday, 18 July 2007
Indonesian heritage glitters at Seoul's national museum
After long time of being just a reader of the Jakarta Post (having letters to the editor published), this is my first article published in this English daily in Jakarta. Citizen Journalism does give me self confidence and motivation to keep on writing. If reader's letter is short now I have the chance to write my indepth opinion on something.
Subscribe to:
Posts (Atom)