Wednesday, 15 October 2008

Petugas yang Berjasa di balik Kenyamanan Perjalanan

Kamis, 02-10-2008 13:07:21 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Suara Konsumen

Satu hal yang khas Indonesia adalah acara mudik Lebaran yang dimanfaatkan oleh berbagai macam masyarakat, bukan sekedar oleh umat beragama Islam. Kemeriahan dan kemacetan mudik bersama ini kemudian menjadi perhatian para produsen. Dari mereka yang menyiapkan transportasi mudik bersama, sampai mereka yang menyediakan posko di sepanjang jalan yang dilalui pemudik.

Kesempatan libur lebaran memang lebih meriah daripada libur kenaikan kelas. Walaupun waktu libur lebih lama pada saat libur sekolah bulan Juni, tetapi biasanya kesibukan orang tua lebih bisa diatur pada saat libur lebaran. Keberadaan cuti bersama biasanya membuat waktu yang teralokasi di sekitar hari raya Idul Fitri lebih longgar.

Pada hari raya Idul Fitri saya bersama keluarga berlibur ke Cisarua, Puncak. Karena sudah lama menjanjikan pada anak-anak untuk mengunjungi Museum Dinosaurus, maka kamipun berkunjung kesana.

Tidak dinyana disana ada Pos Jaga Toyota. Lumayan juga untuk menyapa petugas yang sedang bertugas disana. Menurut pak Dian, seorang teknisi yang saya temui sedang bertugas, mereka bertugas bergantian. Satu shift bertugas selama delapan jam, sementara kepala regu atau leader mereka mendapat jatah bertugas selama dua belas jam. Mereka sendiri sebenarnya merayakan hari raya Idul Fitri tapi demi kepuasan pelanggan Toyota mereka rela masuk bertugas. Pos jaga ini buka selama dua puluh empat jam dari tanggal 26 September sampai 6 Oktober 2008 untuk masa libur Lebaran, dan akan buka lagi sejak tanggal 24 Desember sampai tanggal 1 Januari untuk masa libur Natal dan Tahun Baru. Bila tahun-tahun sebelumnya biaya di posko ini mendapat diskon sebesar 50%, maka tahun ini diskon yang diberikan hanya 25%. Tapi tetap saja pelayanan mereka memberikan perasaan aman berkendaraan jarak jauh, apalagi di jalur Jakarta-Puncak saja ada tiga posko Toyota, belum lagi posko-posko kendaraan dari kendaraan dengan merek berbeda.

Selain pelayanan bagi mobil, rupanya Posko juga menyediakan pelayanan bagi pengemudi dan penumpang mobil, bekerja sama dengan Unilever yang menyediakan teh Sari Wangi gratis atau kesempatan membeli minuman Buavita. Sarana lain untuk bersantai adalah alat pijat dari Advance. Ada tiga macam alat yang tersedia: alat pijat mata, alat pijat refleksi untuk kaki, serta alat pijat untuk betis dan kaki. Sarana pijat gratis ini dibarengi layanan tayangan Indovision. Mas Bono yang menjaga tenda istirahat ini dengan ramah dan sabar memberikan petunjuk pemakaian alat pijat serta menawarkan bila kami tertarik mengganti saluran tayangan televisi. Untuk sementara waktu pemuda yang tinggalnya di Bekasi ini harus menginap di daerah Cisarua untuk bertugas.

Pegawai di Museum dan Taman bermain dan restoran Dinosaurus juga bertugas sambil sesekali menyalami kenalan yang datang berkunjung. Di jalan raya tampak polisi-polisi yang bertugas mengatur buka tutup arah naik kendaraan di jalan raya.

Begitulah, ada banyak orang yang memberikan pelayanan mereka agar perjalanan mudik maupun liburan selama liburan Idul Fitri tahun ini bisa berlangsung dengan nyaman. Terima kasih atas pelayanan dan keramahan para petugas ini!

Bingung Pornografi dari Mata Seni Rupa

Minggu, 28-09-2008 13:24:17 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Opini

Perbincangan pornografi di wikimu menarik perhatian saya. Saya sendiri tidak menyetujui kehadiran pornografi, tetapi menurut pandangan saya (seperti yang juga ada dalam komentar bung Mieka di halaman komentar sebuah artikel mengenai RUU ini) Undang-undang yang sudah ada seharusnya sudah cukup mampu membendung arus pornografi secara hukum. Sementara, secara moral merupakan tugas agama dan orang tua untuk secara bijak bisa membantu mengarahkan manusia sedari kecil untuk menjauhi hal-hal yang tidak baik.

Ada dua buah patung dari Bali yang terpajang di rumah orang tua saya, sedikit berdebu dan mulai dimakan usia. Patung-patung itu mungkin sudah berumur lebih dari tiga puluh tahun. Mereka sudah ada sejak saya masih dibawah umur. Sebuah patung wanita cantik yang bertelanjang dada, hampir sama dengan gambar-gambar yang dilukiskan oleh Le Mayeur, atau beberapa gambar yang (kalau tidak salah ingat) pernah saya lihat di buku biografi Ni Pollok, istri Le Mayeur. Yang satu lagi merupakan karya yang cukup rumit dari satu batang kayu eboni, kayu hitam yang sangat keras, menggambarkan kisah Ramayana. Tampak Dewi Shinta yang sedang melarikan diri di dalam hutan. Dewi Shinta juga digambarkan bertelanjang dada. Bagi saya karya-karya ini merupakan gambaran hasil karya yang tinggi dari kerja kriya anak-anak bangsa.

Katanya dahulu di Bali, sama seperti di Papua, kaum wanita bertelanjang dada. Menurut berita yang pernah saya baca juga, kasus perkosaan di Bali meningkat setelah semakin banyak orang dari luar Bali yang masuk menetap disana. Di Papua malahan kaum lelaki juga memakai koteka sebagai penutup aurat mereka. Ketelanjangan di dalam terpaan udara dingin dan gigitan nyamuk malaria sama sekali tidak mengganggu mereka. Mungkin seperti kisah Adam dan Hawa, ketelanjangan itu sendiri tidak ada salahnya sampai otak manusia membuatnya menjadi salah. Dosa adalah hal yang membuat kita melihat ketelanjangan dengan mata berbeda.

Dalam pasal 1 ayat 1 Rencana Undang-undang Republik Indonesia tentang Pornografi dikatakan: “Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual
dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.”

Apa yang membangkitkan hasrat seksual seseorang tentunya berbeda dengan yang membangkitkan hasrat seksual orang lain, atau ketidak seragaman standard untuk dapat dianggap melanggar nilai kesusilaan dalam masyarakat. Lain ladang lain belalang, tidak heran bila lain tempat lain adat istiadat dan aturan berpakaiannya. Apakah negara akan mengatur secara detail semuanya dan mencoba menyeragamkan tata nilai bangsa Indonesia? Tata nilai yang mana yang akan digunakan? Apakah gambaran patung tadi menimbulkan hasrat seksual? Atau gambaran patung yang dilihat anak saya di sebuah pemeran senirupa (baca http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=3274), apakah dia menimbulkan hasrat seksual? Ada lagi karya Iriantine Karnaya yang menggambarkan gua garba alias vagina (lihat http://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=3365), apakah karya seperti itu yang jelas-jelas terinspirasi pada alat kelamin wanita dan dibuat oleh pematung wanita juga akan menjadi benda terlarang?

Hal ini penting diketahui karena dalam pasal empat dengan jelas tertuliskan:

Pasal 4
(1) Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang memuat:
e.persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang;
f.kekerasan seksual;
g.masturbasi atau onani;
h.ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; atau
i.alat kelamin.

Lalu di pasal enam dan tujuh ada:

Pasal 6
Setiap orang dilarang memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau menyimpan produk pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), kecuali yang diberi kewenangan oleh perundang-undangan.

Pasal 7
Setiap orang dilarang mendanai atau memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.

Berarti kedudukan galeri, kolektor, maupun sponsor pameran seni rupa akan sangat rentan. Kritik sosial yang biasa tersampaikan melalui media seni bisa jadi terbungkam karena kebingungan akan batasan di atas.

Bingung karena batas yang tidak jelas juga akan tercipta dari pasal empat belas:

Pasal 14
Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan materi seksualitas dapat dilakukan untuk kepentingan dan memiliki nilai:
a.seni dan budaya;
b.adat istiadat; dan
c.ritual tradisional.

Siapakah yang bisa memverifikasi batasan seni dan budaya, adat istiadat, dan ritual tradisional ini? Dan bagaimana sikap bangsa terhadap adat istiadat yang dianggap bermuatan “pornografi”? Akankah latar belakang adat akan menjadikan satu suku bangsa lebih inferior “tata nilai”nya daripada yang suku bangsa yang lain?

Sebenarnya, memang terjadi perkembangan dalam dunia seni desain Indonesia bersamaan dengan perubahan agama yang dianut masyarakatnya. Ketika agama Islam masuk ke pulau Jawa, maka sedikit demi sedikit gambar binatang dan manusia menghilang dari tampilan benda seni yang diwariskannya. Hal ini juga terlihat bila kita mencoba membandingkan hasil karya ukir dari Jepara dengan hasil karya ukir dari Bali misalnya. Pengukir Jepara sangat ahli dengan ukiran daun, buah, dan mega/ awan, sementara proporsi untuk ukuran tubuh manusia senantiasa terasa memiliki sedikit kejanggalan. Sementara para pengukir dari Bali hampir selalu memiliki sentuhan proporsi tubuh yang tepat, hidup, dan dinamis. Hal ini memang hasil pengamatan pribadi yang masih perlu diperdalam dengan penelitian yang baku untuk memperoleh kesimpulan yang benar.

Sebenarnya saya sudah membuat foto dari patung-patung yang mengisi ruang tamu orang tua saya (bahkan membuat orang tua saya terheran-heran karena tiba-tiba saya berbaik hati membersihkan patung), tapi rasa takut dituding ikut menyebarkan pornografi membuat saya terhenti tidak jadi memuatnya ke wikimu. Mungkin juga nantinya patung-patung itu harus masuk gudang, atau harus disumbangkan ke museum. Tapi entah bagaimana dengan kehidupan galeri dan seniman, apakah semua perlu migrasi ke luar negeri? Koleksi lukisan yang dianggap “porno” itu kemudian bagaimana caranya dapat diapresiasi sebagai materi seni dan budaya? Adakah biaya tambahan untuk bisa memelihara dan menyimpan koleksi seni dan budaya?

Saya baru melihat dari segi seni rupa, bagaimana dengan seni tari? Apakah jaipong yang bagi sementara orang juga disebut bisa “memprovokasi” hasrat bisa diteruskan? Atau celetukan “nakal” di dalam teater, apakah harus dicekal? Bagaimana kelanjutan pertumbuhan seni dan budaya di Indonesia? Seribu satu pertanyaan menggelayut di pikiran orang awam yang buta hukum seperti saya…

Saya tidak mendukung pornografi, dan saya juga memiliki anak-anak yang perlu saya lindungi, tapi pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi benak itu tidak bisa membuat saya tenang menerima UU baru yang bisa-bisa hanya menjadi UUD (ujung-ujungnya duit…).

Ketika Angka 4 Menjadi Angka Keberuntungan

Senin, 22-09-2008 11:18:59 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Peristiwa

Kalau anda memasuki bangunan tinggi di Jakarta ini, selain angka 13 biasanya ada angka lain yang menghilang di panel penunjuk lantai yang terpampang di dalam lift. Angka yang hilang itu biasanya adalah angka 4. Hal ini terutama karena adanya kepercayaan dari etnis Tionghoa bahwa angka 4 yang dilafalkan sì itu bisa juga berarti “mati” dan diterjemahkan sebagai angka yang tidak memiliki keberuntungan.

Sebenarnya saya tidak terlalu ambil pusing masalah angka, toh grup F4 juga bisa ngetop dan sukses dengan namanya itu. Angka ini dahulu penting bila saya berhadapan dengan pemberi tugas desain yang percaya feng shui. Sudah lama saya tidak terlalu memusingkan angka empat itu, tetapi beberapa waktu belakangan ini saya seperti didorong untuk memikirkannya lagi.

Awalnya, dua minggu lalu ketika saya akan memperpanjang keanggotaan di Indonesian Heritage Society (IHS), petugas di perpustakaan bertanya kepada anggota yang mendaftar di depan saya: “Apakah anda punya pilihan nomor (keanggotaan)?” Saya yang berdiri di belakangnya tidak tahan untuk tidak nyeletuk: “Lho, boleh pilih nomor anggota? Baru tahu saya…”“Ya, soalnya ada beberapa orang yang percaya dengan nomor sial sehingga kalau ada nomor yang tidak diinginkan boleh saja pilih nomor yang lain.” Hah?! Baru tahu saya kalau orang asing juga suka memilih nomor, atau mungkin karena anggota IHS sekarang juga banyak orang Korea, China, dan Jepang.

Mungkin karena wajah bengong saya ketika mendengar adanya pemilihan nomor keanggotaan, maka dengan santai saya diberi nomor 384 tanpa bertanya apapun. “Wah?! Kok aku kebagian angka 4 nih?,” batinku. Tapi toh saya terima saja. Untungnya, ketika pertama kali bertugas kembali di museum dengan nomor keanggotaan baru itu, tamu yang datang sangat menyenangkan. Mereka kritis, rajin bertanya, dan terkadang memberikan masukan juga. Pengalaman yang menggembirakan!

Hari Jumat kemarin, pada waktu acara Kopdar alias kopi darat miliser Forum Pembaca Kompas (FPK) lagi-lagi saya tiba di meja pendaftaran mendengar orang bercanda tentang angka yang diperolehnya untuk door prize. Setelah itu, saya yang menerima angsuran nomor 004. Dengan bercanda saya berkata: “Wah, minta yang 007 saja ya!” Tapi tetap saja nomor 004 itu saya masukkan ke dalam tas sambil membatin: “Wah, empat lagi…”

Door Prize acara hari itu memang bikin ngiler, dua buah 3.5 Broadband Internet Package Indosat M2 (termasuk modem, dan kartu prabayar), serta sebuah Blackberry. Semuanya sumbangan sponsor dari Indosat. Biasanya saya tidak pernah beruntung dengan yang namanya undian maupun door prize, karena itu ketika teman-teman baru yang duduk di sebelah saya heboh menyambut pengumuman pemenang door prize, saya hanya ikut tertawa melihat kehebohan mereka. Hadiah pertama lewat, pemenangnya sederetan kursi kami…

Tidak disangka, ketika hadiah kedua berupa paket modem dan koneksi internet prabayar dari Indosat akan dibacakan, Mas Totot yang menjadi moderator merangkap MC dalam acara itu punya pesan sponsor. Katanya, angka yang akan keluar itu untuk kalangan etnis tertentu biasanya dianggap tidak beruntung, wah…H2C deh! (Harap-harap cemas, walaupun sebenarnya banyakan cemasnya…he…he…he…). Ternyata, memang benar angka yang disebut itu adalah 004…Wow, takjub, dan tak percaya…ternyata angka 4 bisa juga menjadi angka keberuntungan!

Kebetulan saya sedang kesal dengan koneksi jaringan internet yang saya pakai sekarang, dapat hadiah modem dan voucher gratis 160 MB dari Indosat M2. Lumayan, bisa buat uji coba. Kalau bagus, ya…berpindahlah saya ke lain hati! Terima kasih Indosat!

Ternyata keberuntungan tidak datang dari angkanya, tapi dari rezeki yang sedang diberikanNya kepada kita!

Tuesday, 23 September 2008

Monkey and money...



I think monkey learn a lot of things from human being, even their passion towards money was planted by human being. Look at this little monkey. He is a little beggar who ask for money, he'll dance, he'll run, or even bicycling to get money...Fortunately he wouldn't mind a thousand rupiah...not as greedy as human being!

Monday, 22 September 2008

Saatnya Kaum Muda Bersuara dan Bekerja

Minggu, 21-09-2008 07:37:26 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Peristiwa

Sebelum portal jurnalisme warga lahir di Indonesia, sebenarnya jurnalisme warga sudah ada. Bentuk jurnalisme warga yang paling mendasar adalah surat pembaca. Ketika ruang untuk berbagi kisah dan berbagi komentar terasa semakin penting, sementara dunia maya semakin memperbesar kemungkinan pertemuan yang sulit terjadi di dunia nyata, maka internet pun mulai dilirik untuk ruang pertemuan ini. Mailing list alias milis bisa menjadi sarana bertukar e-mail dalam kapasitas ruang komunikasi, dan juga berfungsi sebagai corong suara pembaca.

28 Juni 2004 adalah hari ulang tahun harian Kompas, dan seorang pemuda bernama Agus Hamonangan mencari-cari ruang pertemuan para pembaca harian Kompas di dunia maya. Tampaknya ruang ini belum tercipta, sehingga dengan modal nekat ia mencoba membuat ruang tempat bertemunya para pembaca kritis dari harian terkemuka di Indonesia ini. Milis Forum Pembaca Kompas lahir tanggal 30 Juni 2004, sebuah milis yang berdiri sendiri, bukan berasal dari dalam organisasi harian Kompas, melainkan murni dari pembaca setia harian ini dengan moderator Agus Hamonangan sendiri. Benar-benar nekat karena saat itu Agus sendiri belum begitu mengenal dunia milis dan perangkat penunjang kerja moderator milis.

Setelah empat tahun berlalu ternyata milis Forum Pembaca Kompas kini sudah menerima sebanyak 7400 anggota. Jumlah yang kecil bila dibandingkan dengan tiras pembaca harian Kompas yang di wikipedia (dibaca di bulan September 2008) dituliskan sebesar 2,25 juta orang pembaca di seluruh Indonesia. Tetapi sebagai ruang pertemuan dimana pembaca dari berbagai tempat di dunia bisa bertemu, tempat diskusi antara penulis dan pembaca, atau hanya sekedar diskusi antara pembaca harian, maka di ruang ini terasa benar suasana berpikir kritis, kepedulian terhadap Indonesia, dan komunikasi dalam suasana demokrasi yang kental. Kualitas dan intensitas komunikasi antar pembaca sangat terasakan.

Tampaknya kehadiran Milis Forum Pembaca Kompas (FPK) ini, walaupun bukan dibidani oleh orang dalam harian ini, juga menjadi sarana komunikasi untuk mengetahui kebutuhan dan aspirasi pembaca harian Kompas. Tidak heran kalau harian Kompas berbaik hati mensponsori pertemuan atau kopi darat ke-5 dari Milis FPK ini di DLoungeXXI, Plaza Senayan. Pertemuan dengan agenda diskusi, buka puasa bersama, serta nonton bareng film Mamma Mia di studio XXI itu, juga mendapat tambahan sponsor dari Indosat berupa tiga buah hadiah door prize yang cukup menggiurkan. Serunya mendapat hadiah tentu sangat menarik, tapi yang lebih seru adalah berkenalan dengan wajah-wajah yang sebelumnya hanya dikenal di dunia maya lewat nama dan e-mail.

Acara diskusi mengetahkan tiga orang pembicara yaitu Sandiaga Uno (sebagai pengusaha muda), Yanuar Risky, analis independen pasar modal- yang juga ketua OPSI (Organisasi Serikat Buruh Indonesia)- sebagai ekonom muda, serta Budiman Sudjatmiko (sebagai politisi muda). Dengan moderator Stefanus Herminoto (Totot), ketiga pembicara mengemukakan pandangan mereka yang bertolak dari pengalaman mereka masing-masing di bidangnya.

Sandiaga Uno lebih menekankan perlunya kaum muda untuk percaya diri dan benar-benar menyingsingkan lengan baju agar bisa ikut serta menyumbangkan sesuatu bagi kemajuan bangsa. Perlunya kaum muda ikut mengusakan peningkatan keberdayaan masyarakat, melalui Usaha Kecil Menengah (UKM) dan kewirausahaan misalnya, agar dalam jangka lima sampai sepuluh tahun ke depan jumlah penduduk miskin Indonesia berkurang paling tidak sepertiga dari jumlah yang ada sekarang.

Yanuar Rizky sebagai pembicara kedua, lebih menekankan perlu adanya komunikasi untuk memperkecil perbedaan antara teori dan kenyataan di lapangan. Pemimpin yang diperlukan menurut Yanuar Rizky adalah pemimpin yang mampu mengubah hal yang negatif menjadi positif, yang memiliki kualitas KAMPRET yang bukan codot, melainkan yang memiliki aspek Kreatif, Aktif, Mandiri, Produktif, Reaktif, Energik, Terintegrasi. Friksi antara pengusaha dan pekerja juga terjadi karena tidak adanya komunikasi. Karena itu dalam pemikirannya, yang penting bagi bangsa ini adalah bagaimana mempunyai lembaga mediasi, dan bagaimana sistim jaminan sosial bisa bekerja agar terjadi peningkatan taraf hidup orang banyak. Peran dan dukungan pemerintah sangat dibutuhkan disini, sebagai contoh diberikan betapa tinggi tingkat kenaikan orang kaya di Cina karena adanya dukungan kebijakan pemerintahnya. Demikian pula dikisahkan perlunya dukungan dari generasi tua kepada generasi pimpinan yang lebih muda seperti yang dilihat dari Cina dan Singapura.

Budiman Sudjatmiko sebagai pembicara menceritakan asal muasal dia berniat terjun masuk ke dalam sistem pemerintahan. Menurutnya tidak bisa generasi muda hanya berteriak-teriak dari luar sementara pekerjaan yang ada berada di dalam sana. Bila ia membandingkan keadaan di Amerika, merujuk pada fenomena Kennedy dahulu maupun Obama kini, maka keadaan Indonesia seharusnya jauh lebih kondusif untuk kaum muda. Demokrasi di Indonesia diperjuangkan oleh orang muda, sehingga mereka berhak untuk ikut menjalankannya. Yang terpenting dari perjuangan itu bukan sekedar membuka pintu demokrasi, melainkan perlunya proses lebih lanjut yang bisa menghasilkan hasil yang memuaskan. Berkaca dari pengalaman Gus Dur sebagai presiden, maka Budiman menegaskan pentingnya strategi dan manajemen dalam melaksanakan niat baik. Gus Dur menurutnya mencoba melakukan terlalu banyak niat baik secara bersamaan tanpa dukungan strategi dan manajemen yang tepat.

Menaggapi pandangan Yanuar Rizky mengenai sistem jaringan sosial, Budiman mengajukan pemikiran mengenai perombakan sistem dimana Jamsostek bisa dikendalikan oleh serikat buruh dan masyarakat sipil. Terdapat dua pilihan, bisa seperti Jerman dimana jaminan kesehatan dan hari tua dipegang oleh masyarakat sipil (civil society), atau seperti di negara Amerika Latin, misalnya Venezuela, dimana peran pemerintah sangat dominan dan pihak swasta tidak boleh masuk ke wilayah strategis. Demikian juga ada dua pilihan antara mengikuti pola Communitarian Democracy seperti Jerman, Jepang, dan Perancis, atau berkiblat kepada Individualist Democracy seperti di Amerika dan Inggris.

Seorang aktivis dari Jepang pernah mengakui kepada Yanuar Rizky bahwa mereka mengembangkan organisasi pekerja mereka berdasarkan union solidarity yang mereka pelajari dari Indonesia pada tahun 1948. Pola komunitas masyarakat Indonesia dan nilai-nilai dasar seperti gotong royong sebenarnya sudah sangat menunjang sebagai dasar untuk kesuksesan kita. Bila ada kerjasama dari berbagai pihak, gotong royong dengan strategi dan manajemen yang jelas, maka Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi dan menata kembali kehidupan yang lebih baik.

Milis FPK karena kemajemukan anggotanya mungkin bisa dianggap sebagai Indonesia kecil, dan dengan memanfaatkannya sebagai sarana komunikasi niscaya suara-suara yang berbeda, yang menyuarakan kepentingan rakyat, kepentingan bangsa, akan bisa bergaung lebih keras lagi. Semoga…(tapi jangan lupa singsingkan juga lengan baju dan mulai ikut bekerja).



Oleh-oleh dari Kopdar 5 Milis Forum Pembaca Kompas, 19 September 2008

Baca juga:

http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/100762

Ingin ikutan milis? Daftar di: Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com

Wikimu sebagai Jembatan Profesionalisme

I've been thinking about the values that a citizen reporter should know. I think blog, mailing list, and citizen journalism website have their own personal meaning to me. While blog is more personal, mailing lists and citizen journalism websites are more into communication with others.

Wikimu is a bit different from other citizen journalism website. Most of its members use it as a kind of their blogs or to introduce their blogs. They are not really thinking about competing the professional journalist, they care only for sharing their opinions. Perhaps it came from the basic of its editorial policy, which is to encourage Indonesians to write. Some passerby readers might think that Wikimu did not have real news, that in the other side it is the real consumers' or readers' opinions on their daily interactive life with news from the mainstream media and news from their own experiences.

Contributor can use wikimu to write out their opinions, and they can also see their own preferences of news, of activities to involve with...they can dig into their own passion and...then...they can go towards professionalism in whatever profession they've chosen. That's why I said that wikimu is the bridge towards professionalism.


Senin, 15-09-2008 16:15:44 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Opini



Sehubungan dengan tulisan saya berjudul “Benarkah Jurnalisme Warga Bebas Nilai?”, saya juga mencoba melihat ke dalam definisi jurnalisme warga secara lebih mendalam. Menurut saya, pertama-tama perlu dibedakan arus informasi yang termasuk dalam kategori jurnalisme warga. Sebagai seseorang yang senang menulis, dan ikut berkecimpung dalam dunia blogging, menjadi anggota milis, serta menjadi kontributor pada portal jurnalisme warga, saya merasa ada sedikit perbedaan dalam pelapisan kategori jurnalisme warga ini. Di bawah ini saya ingin mengungkapkan sedikit kesan pribadi dari beberapa jenis kegiatan jurnalisme warga yang saya ikuti.

Blog

Bagi saya sebuah blog merupakan buku harian terbuka saya di dunia maya. Tetapi saya sadar benar bahwa buku harian ini terbuka untuk umum, sehingga secara otomatis cara penulisan dan isi tulisan tidak segamblang dan sepribadi buku harian saya yang sebenarnya. Pembaca blog saya dan komentator masih sangat sedikit, tapi hal ini memberi saya lebih banyak ruang “bernafas”, artinya saya tidak terlalu terikat dengan kehadiran blog saya. Tidak perlu merasa mengecewakan khalayak ramai bila saya sedang sibuk dan tidak bisa membuat tulisan.

Milis

Ada beberapa macam milis yang saya ikuti, baik milis alumni, milis forum pembaca, maupun milis profesional. Tetapi milis sedikit melelahkan buat saya. Terkadang terlalu banyak surat yang membanjiri kotak surat saya, sehingga saya lebih senang berlangganan rangkuman beberapa surat sekaligus. Tentu saja sebagai resikonya saya sering ketinggalan berita, atau tidak ikut terlibat ketika sedang ada diskusi yang seru.

Portal Jurnalisme warga

Portal jurnalisme warga semacam wikimu ini buat saya lebih menyenangkan. Setiap saat saya punya waktu dan ingin menuangkan tulisan serta menuai pendapat, saya bisa menayangkannya atau mendapatkan opini orang secara cepat (walaupun tulisan saya tidak selalu menuai banyak komentar he..he…he…). Demikian juga jika ingin mencari diskusi yang sedang hangat saya tinggal mencari indeks komentar dan ikut serta menyuarakan pendapat.

Salah satu hal yang menyenangkan di luar komentar pembaca (lihat http://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=3158), adalah kehadiran para pewarta profesional yang ikut membantu memberikan pemahaman mengenai etika jurnalistik (lihat antara lain tulisan bung Satrio Arismunandar di http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=857), atau Bung Berthold yang biasanya tidak bosan-bosan berteriak: “Cek dan recek!”

Satu-satunya portal partisipatori warga lokal (dalam bentuk portal jurnalisme warga) yang saya ikuti sebagai kontributor adalah wikimu.com. Keterbatasan waktu membuat saya tidak lebih dari sekedar pembaca dan komentator di portal partisipatori lainnya. Sebenarnya sama dengan bacaan versi cetak di dunia nyata, setiap media daring juga punya konsumen yang berbeda-beda, hanya saja media internet memungkinkan lebih banyak lagi orang lalu lalang yang mampir.

Yang menarik perhatian saya dari Wikimu adalah berbagai perkembangan yang kebetulan terlihat dan tercatat ingatan saya. Salah satu hal yang saya ingat benar adalah blog pak Mimbar. Dahulu blog ini terkesan sepi dan kurang kunjungan, lebih ramai dikomentari di wikimu. Entah apa karena ganti nama, dari “Aku ini Binatang Karang” menjadi “Mimbar Saputro”, atau karena memang Wikimu membantu promosi nama pak Mimbar dengan lebih efektif, maka sekarang ini tampaknya blog pak Mimbar sudah punya penggemar tersendiri. Saya sendiri bila sedang kangen dengan tulisan pak dhe Mimbar pasti melongok langsung ke dapurnya…

Kalau tidak salah, keberadaan bung Berthold sebagai kolektor dan Suhu Tan dengan keahlian feng shuinya juga pernah muncul di media cetak. Ada lagi Agnes Davonar dan Ibu Melly Kiong yang kehadirannya sebagai penulis lebih terasakan setelah perkenalan di Wikimu. Ada juga kehadiran D-Radio yang jadi lebih bergaung kehadirannya bagi pembaca Wikimu, hal ini terlihat dari munculnya tulisan lain mengenai acara di D-Radio di luar acara bersama Wikimu. Tentunya gaung ini terutama terdengar oleh pembaca yang bisa menjangkau frekuensi siaran radio itu, mereka bisa langsung ikutan nimbrung, yang lain bisa juga dengan membuka versi daringnya.

Saya sendiri pernah tiba-tiba didatangi wartawati Nakita untuk menjadi narasumber, setelah membaca tulisan saya di wikimu (lihat http://www.wikimu.com/news/DisplayNews.aspx?id=6925 ), dan dapur saya jadi ikutan numpang mejeng di serial Rumah Interior setelah sebelumnya menerima kunjungan dadakan dari wartawan Tabloid Rumah.

Salah satu kontributor wikimu, Muhammad Nizar, yang mengaku awalnya grogi menulis, akhirnya malah benar-benar terjun menjadi wartawan profesional. Hal seperti ini memang cukup sering terjadi, saya lihat di OhmyNews International juga ada beberapa kontributor muda yang akhirnya menggeluti dunia jurnalistik sebagai profesi mereka.

Tapi tidak tertutup juga kemungkinan adanya wartawan profesional yang menulis di luar topik yang menjadi tanggung jawabnya di harian/majalah tempat kerjanya dan menemukan keasyikan tersendiri lalu menjadi penulis buku dengan tema yang sama.

Kalau diumpamakan dengan makanan maka Wikimu ini mirip makanan kesukaan saya: gado-gado. Kalau membaca harian cetak, atau majalah, maka biasanya sudah ada kriteria tertentu yang bisa kita harapkan di sana. Di Wikimu, pilihannya beragam, dari yang serius sampai santai ada, dari tulisan yang sangat pendek sampai tulisan yang sangat panjang juga ada.

Sempat saya perhatikan setelah acara pelatihan menulis di SMU, ketika sistem Wikimu sudah menyatukan semua kontributor ke beranda, terlihat ada jeda sebentar dari pembaca yang biasanya langganan berkomentar. Mungkin sedikit kaget dengan serbuan berita yang mayoritas buatan siswa-siswi SMU. Tetapi ternyata kemudian penulis-penulis lama tetap rajin berkunjung. Memang, tampaknya semangat utama dari Wikimu adalah untuk mengajak orang-orang berani menulis.

Dari keberanian menulis, kemudian timbul semangat untuk menulis. Berangkat dari hal itu, perhatian terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar kita juga bertambah. Hal ini memang terasa bagi saya pribadi, ketika suatu hari melihat orang berkeliling di food court meminta tanda tangan, saya jadi ingin tahu apa yang terjadi. Kalau biasanya saya mungkin tidak terlalu perduli pada kejadian itu (kebetulan meja saya tidak dihampiri), karena penasaran akhirnya jadi tulisan juga.

Kalau berbicara tentang etika jurnalistik, tentunya kita sedang belajar. Tetapi tuntunan nilai kultural, nilai etika, agama, dan berbagai batasan nilai yang kita miliki secara pribadi sudah membantu membentuk filter awal tulisan kita. Dalam interaksi di artikel, yakni melalui sarana komentar, terasa betapa banyak hal yang bisa kita pelajari. Terkadang komentar yang terlontar dengan hati panas akan lebih pedas terasa. Atau, tulisan maupun komentar kita diterima secara berbeda oleh pembacanya. Saya bisa merasakan proses pembelajaran menerima perbedaan pendapat sedang berlangsung, dan juga proses pembelajaran agar dalam memberikan komentar atau menuliskan tulisan bisa lebih berhati-hati.

Jembatan

Kehadiran blog, milis, maupun portal partisipatori warga merupakan jembatan antara warga sebagai perseorangan dengan lingkungan di luarnya. Agak berbeda dengan jaringan pertemanan sosial yang memperluas jaringan pertemanan, jurnalisme warga memungkinkan kita untuk lebih mengenal pandangan dari teman yang baru kita kenal. Tidak jarang dengan orang yang sebelumnya sudah kita kenalpun, masih ada hal-hal yang tidak kita ketahui hanya karena kita tidak pernah membahas masalah itu sebelumnya.

Wikimu saya katakan sebagai jembatan profesionalisme, buat saya hal itu berarti lewat portal ini kita belajar untuk lebih profesional. Bila saya menulis di blog, maka itu adalah pandangan saya pribadi, perasaan saya pribadi. Dengan menurunkannya ke portal partisipatori warga, maka saya perlu menghargai pembaca tulisan tersebut, perlu memberikan fakta-fakta maupun pendapat yang bisa dipertanggung-jawabkan. Tetapi tetap saja tulisan di blog saya tidak bisa seenaknya karena saya juga ingin menjaga kredibilitas nama saya. Hal ini mungkin akan sedikit berbeda dengan blog yang pemiliknya anonim alias tidak dikenal. Tapi akankah kita mempercayai ucapan orang yang tidak kita ketahui identitasnya? Memang masih ada penalaran akal sehat yang akan menguji kebenaran isi blog, tapi tetap saja kredibilitas seseorang berperan besar dalam meraih kepercayaan pembacanya.

Dari artikel Jay Rosen, saya membaca pandangan dari co-editor BoingBoing, Xeni Jardin, ketika ditanya apakah blog akan menggantikan media konvensional, katanya: “Apakah mungkin pasar menggantikan restoran?” Baginya blog merupakan pasar tempat segala macam materi mentah berasal, dan jurnalis profesional menjadi koki handal yang menyulapnya menjadi nikmat hasil olahan restoran. Artinya antara blogger dengan jurnalis profesional bisa terjadi sinergi yang saling mendukung.

Saya sudah melihat ini sinergi ini muncul di Wikimu. Cukup banyak berita yang terlebih dahulu saya baca di Wikimu daripada di harian cetak yang saya baca, tetapi bila wartawan yang mengolah berita memang piawai maka berita itu tetap menyenangkan untuk dibaca karena lebih lengkap dan lebih mendalam pembahasannya.

Ketika saya menulis untuk Wikimu mengenai kegiatan membuat biopori di lingkungan tempat tinggal orang tua saya, tak lama kemudian saya membaca berita yang jauh lebih lengkap di harian Warta Kota. Mungkin saja berita itu sudah lama dipersiapkan, tetapi mungkin juga berita itu lebih disempurnakan lagi karena ingin menampilkan tulisan yang jauh lebih berbobot lagi. Mungkin sebagai kontributor Wikimu, ada sedikit rasa GR (gede rasa he..he...he...) yang berlebih karena merasa situs ini cukup sering ditengok para jurnalis, dan kemudian topik hangat di Wikimu segera menjadi topik hangat yang tampil di media. Kalau benar begitu yang terjadi maka di Wikimu sinergi ini akan jauh lebih terasa karena ruang komentar yang sangat aktif. Pro dan kontra bisa segera muncul di permukaan, sangat menarik sebagai pengukur obyektivitas pandangan. Tentunya parameter obyektivitas ini baru benar-benar bisa dipakai bila pembaca Wikimu memang sangat luas dan berlapis-lapis, dari yang awam sampai yang profesional, dari yang lokal sampai yang global.

Jembatan ke arah profesionalisme, dalam arti bahwa saya berharap bila saya menulis artikel kesehatan, tentunya akan banyak profesional dalam bidang ini yang akan berkomentar bila saya salah dalam mengungkapkan data atau fakta. Dengan demikian kesalah-pahaman yang ada di kepala saya bisa berubah dan tidak diteruskan lagi. Seringkali tulisan yang diturunkan wartawan media cetak menjadi bahan klipping dan terus menjadi bahan kepustakaan, padahal mungkin sudah ada ralat atau kritik yang masuk tapi tidak terbaca oleh pembuat klipping tersebut. Hal ini mungkin akan segera berubah karena banyak harian yang sudah mulai memiliki tampilan daring di dunia maya, tetapi sumber bahan mentah yang beragam ini akan memperkaya dan mempertajam dunia jurnalisme profesional Indonesia.

Bukan hanya profesi jurnalis yang belajar menjadi lebih profesional, tetapi hampir semua profesi akan mengarah ke sana. Dengan masukan dan kritikan yang ada, maka setiap makhluk profesional tidak lagi tinggal di menara gading yang dimilikinya. Buktinya dokter Nury bisa tiba-tiba dikunjungi pasien dengan catatan lengkap keluhan medisnya setelah membaca tulisan bu dokter di Wikimu. Akan terasa perbedaan antara menulis bagi jurnal ilmiah dengan menulis menggunakan bahasa yang populer, dan kita semua belajar dari pengalaman menulis itu. Kita juga bisa belajar mengenali diri dan minat kita, karena secara tidak sadar hal itu akan terasa dalam pilihan topik tulisan. Menggali lebih mendalam ke arah yang benar, berarti mulai bekerja dengan passion (cinta), dan bukan semata tarikan kepentingan materi. Sekarang tinggal bagaimana menjaga agar jembatan ini tetap berdiri…



Semoga bisa bersambung dengan:

Mempertahankan jembatan

Sunday, 14 September 2008

What a day!

Actually today I started the day with good news! My internet was able to work properly after the computer got struck by lightning (again...hu...hu...hu...I was panicked as I've got so many commitments that would need my computer!)

Then, after doing all the online work, preparing the children, and struggling through the traffic for more than one hour, brought the children to my parents' house, then I was able to arrive to the museum "in time" (perfect time...as the visitors in the museum were already preparing to make a phone call to Rose). I should be leaving earlier from Serpong! I was actually Martha's back-up, but we decided to do tandem tour with her as the leader. She had problem with her stomach...so I've got to try my best in remembering dates! Yes, I was actually share the same problem with my eldest son: it's hard for us to remember all those years of the history lesson. Usually I need to reread some information before guiding(on dates etc. to remember it the next morning).

Luckily I did have a very nice group of visitors. They were active asking questions and making comments. The highlight tour went on longer than my usual tour, but not as tiring as I usually was.

Then I went to my brother's house to work online and to print out the invitation from Toyota Kijang (and also to see what time is the venue)...it's really a small world, he knew Tuhu (the man in charge for the invitation) from the IYCEY competition.

Back to my parents' house I've got to struggle with those boys to make them take their nap. They do need it or they will fall asleep in the car (like they usually did) on the way to the event. I'd like to take part in the photo session with the new car. I knew that it would be a grumbling session if they do not have their afternoon sleep! But then they were so difficult to wake up! We moved out from the house at five o'clock...late already!

Yet, I did not think of the traffic...and actually I do not even think that the traffic will be that bad! From jalan Wijaya to Pondok Indah Mall 2 it took me an hour. I was not familiar with PIM 2 (he...he...he...it was like a villager came to the city) and I was lost in the parking lot for one hour! Really one hour! We were in already by 18.00 but we arrived inside the mall at about 19.00. I am not bless with a fairy godmother for finding a parking lot. And I saw more than one car who used two parking spaces for only their own car...being very tired, I was a bit angry! I knew now why one blogger do care to upload a post about parking spaces (see it here).

I hate parking lot! I think I never like it, even as a student of architecture...I don't really like to design a highrise building because I did not feel comfortable with all those columns in the parking lot! In the beginning I did not look for valet service as I had computer and some other bags in the car, but then...when I was hopeless I could not find their service booth!

Two hours driving with three fighting boys inside the car could make me insane! I wonder when can we enjoy the facility like MRT in Singapore (with the accuracy of departure and also with safety feeling for its riders). Traffic is something I really hate from Jakarta! Back from the PIM I came into another traffic jam in Pondok Indah and Bintaro before I could go into the toll road. 30 minutes to get out from the mall, and another one hour to go home...

Shuttle bus is OK for me, but their time schedule is not really regular, and it is also depending on the traffic...so we can't have a very tight scheduling with this shuttle bus...sometimes we can be late. But, the worst is the time I lost while waiting without any idea at what time the next bus to go home would arrive! The time schedule is also limited, so we can't really count on it to transport us home after seven in the evening!

Completing my regret of the day...my camera's batteries got exhausted again...so I could not even make a picture from the event for wikimu (I'm usually not really keen on writing about culinary but the waiter put so many things on our table, some looks interesting for the culinary article- though I am not good at writing about culinary!).

I feel grateful to the EO of the event that they were patient enough waiting for us...the boys were not really eating (we visited KFC's drive through counter on our way back,that's how we add some minutes that make our one hour riding back home he...he...he...), but they do enjoy seeing new things. And we do enjoy receiving a small plush toy Kijang. The Toyota Kijang's blog writing competition made me taking up personal blogging too (I found it fun!). I did not really write about traveling, I just wrote out everything about my Kijang.

I heard that the evening event was fabulous, guests seemed happy to go home...winning or not winning! So the new wave marketing is taking on their way...

Benarkah Jurnalisme Warga Bebas Nilai?

Sabtu, 13-09-2008 08:31:05 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Opini



Tuduhan bahwa jurnalisme warga (citizen journalism) dalam berbagai bentuknya, baik dalam bentuk portal partisipatori warga, blog, maupun milis tidak mengenal etika atau bisa dikatakan bebas nilai sudah lama terdengar. Baru-baru ini harian Kompas (Senin, 8 September 2008) mengangkat masalah ini dalam kolom Teknologi Informasi harian tersebut, berjudul “Jurnalisme Warga, Teknologi, dan Bebas Nilai” Menjadi suatu pertanyaan bagi saya bahwa tudingan bebas nilai ini masih kental terasa dalam artikel ini. Apakah benar jurnalisme warga bebas nilai?

Perdebatan mengenai blogger dan jurnalis sudah lama berlangsung di dunia internasional. Tetapi pada awal tahun 2005 Jay Rosen, seorang kritikus pers, penulis, dan dosen jurnalistik dari New York University, menurunkan sebuah artikel yang berjudul “Bloggers vs. Journalists is Over”, bahwa persaingan antara para blogger dan jurnalis sudah usai. Dalam tulisannya yang masih tertayang di dunia maya antara lain dikutip pandangan Rebecca Blood, penulis buku Weblog Handbook, yang menyatakan:

“Ketika seorang blogger menuliskan laporan harian dari sebuah konperensi internasional, seperti yang dilakukan David Steven pada tahun 2002 dari Pertemuan Dunia mengenai Pembangunan yang Berkelanjutan, itu adalah bentuk dari jurnalisme. Ketika seorang reporter majalah menggunakan sebuah press release tanpa mengecek fakta, ataupun berbicara kepada nara sumber tambahan, maka itu bukan sebuah bentuk jurnalisme. Ketika seorang penulis kolom opini memanipulasi fakta untuk membuat kesan yang tidak mengandung kebenaran, maka itu bukan pula jurnalisme. Ketika seorang blogger mencari daftar fakta yang ada dan menemukan bahwa pernyataan seorang figur publik ternyata tidak benar, maka itu adalah bagian dari jurnalisme. Ketika seorang reporter mengutip pernyataan seorang politikus tanpa memverifikasikan apakah hal itu benar, maka itu bukan bentuk jurnalisme.”


Pandangan serupa saya dapat dari percakapan e-mail dengan Dan Gillmor, salah satu penggiat jurnalisme warga, ketika saya menanyakan perbedaan antara blogging dan citizen reporting. Menurutnya tidak ada batasan yang jelas untuk membedakan antara blogger dengan citizen reporter, karena memang ada berbagai macam bentuk portal citizen journalism. Ada komunitas blog, ada portal citizen journalism (partisipatori warga). Ada blog dan portal partisipatori warga yang melalui proses editing, ada yang tidak.

Kejadian Tsunami yang melanda Asia (termasuk di dalamnya Aceh dan Nias) membukakan mata dunia bahwa jurnalisme warga merupakan satu aset yang berharga dan bisa membantu dunia jurnalistik. Hal ini dikutip Jay Rosen dari blog Steve Outing, yang catatannya tentang sebelas lapisan citizen journalism seringkali digunakan dalam membicarakan jurnalisme warga. Partisipasi warga sebagai saksi mata selain memberikan nuansa yang berbeda, dalam kasus-kasus seperti kejadian penabrakan pesawat di WTC (New York, 2001), tsunami di Asia (2004), maupun pemboman di London (2005) juga memberikan berita dengan kecepatan yang jauh lebih cepat daripada jalur media konvensional.

Tentu saja ada beberapa hal lain yang juga terekam dari partisipasi warga ini. Dari kejadian bom di London lalu timbul juga pertanyaan apakah para pewarta warga ini juga sudah menjadi paparazzi? Dalam hal pengambilan gambar dalam kaitannya dengan privasi orang di ruang publik memang menjadi hal yang penting bagi media konvensional yang berpegang pada etika jurnalistik. Bagi Dan Gillmor yang bisa mencegah hal itu hanya norma kultural dan pengembangan kesepakatan bersama tentang privasi di ruang publik.

Tulisan Jay Rosen yang diturunkan setelah mengikuti Konperensi “Blogging, Journalism, and Credibility” itu menganggap perseteruan blogger dan jurnalis sudah usai. Filter editorial bisa juga diperoleh secara daring bila orang berinteraksi dengan berita itu. Kredibilitas bagi sebuah media akan banyak berhubungan dengan kepercayaan yang diperolehnya, dan kepercayaan itu akan membesarkan merek (brand) yang diusungnya. Bagi seorang penulis hal yang sama juga berlaku, kredibilitas akan mempengaruhi kepercayaan publik kepadanya.

Menurut Dan Gillmor sudah menjadi tugas pembaca untuk mencari sumber informasi yang dapat dipercaya, entah dari reputasi sumber itu, atau dari rekomendasi orang lain, maupun analisa pribadi orang itu atas berita yang sedang dibacanya.

Jadi apakah sebuah berita daring bebas nilai? Rasanya tidak, melalui situasi interaktif akan terbentuk sanggahan bila ada hal yang salah. Berharap lebih banyak lagi orang-orang yang profesional di bidangnya masing-masing untuk memberikan masukan dan sanggahan sehingga akan menjadi sumber informasi yang lebih akurat.

Apakah jurnalisme warga di Indonesia berkembang liar dan tidak mencerminkan prinsip-prinsip jurnalisme? Melalui kegiatan interaktif artikel dan komentar pembaca (yang diharapkan bisa memberi masukan dari masyarakat awam maupun professional di bidang yang dibahas artikel tersebut), akan tercipta proses pembelajaran kepada masyarakat untuk pandai memilah sumber informasi. Dalam proses ini penulis informasi juga bisa belajar melihat reaksi yang timbul dari tulisannya. Dari situ akan timbul kesadaran mengapa suatu hal menjadi hal yang sensitif, dan mengapa suatu tulisan bisa membuat opini yang jauh berbeda dari pikiran awal penulis. Para jurnalis media juga bisa memanfaatkan hal ini untuk belajar dan lebih meningkatkan profesionalitas mereka.

Apakah tulisan yang dimuat di portal daring dianggap sebagai kebenaran hakiki? Pembaca, terutama yang saat ini mampu menjangkau ranah internet di Indonesia, tentunya sudah mempunyai filter-filter yang jauh lebih tinggi daripada masyarakat awam. Filter-filter ini yang akan menjadi penyaring informasi media yang tidak benar yang bisa jadi akan menjadi opini publik yang salah. Filter seperti ini yang diharapkan bisa berkembang dalam forum-forum komunikasi masyarakat.

Di wikimu cukup banyak kontributor yang setiap kali menyuarakan pentingnya pemeriksaan ulang sumber berita. Yang tidak bosan mengingatkan bahwa sumber seperti Wikipedia juga seringkali tidak sempurna, atau memberikan masukan tentang etika dan tuntunan dalam menulis untuk konsumsi publik. Tetapi pembelajaran yang paling berarti berada di dalam interaksi itu sendiri. Jadi kalau anda sekarang membaca artikel, jangan lupa klik kolom komentar, dan baca komentar-komentar yang masuk!

Ayo Berbagi, Bukakan Jendela Dunia Bagi Sesama...

Minggu, 31-08-2008 11:57:28 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Gaya Hidup

Bagi saya, ungkapan “buku adalah jendela dunia” sangat bermakna, karena buku memang membukakan mata saya terhadap banyak hal yang ada di dunia ini. Saya sudah bisa bermimpi tentang Eiffel dan Louvre, sebelum bisa menjejakkan kaki kesana, karena membaca buku. Saya sudah bisa membayangkan alam di dasar laut (walaupun sampai sekarang tidak bisa menyelam) karena buku dari Jules Verne.

Buku adalah dunia yang menawarkan berbagai pengetahuan dunia. Televisi juga memperkaya pengetahuan saya, tapi ada satu hal yang tidak sanggup ditawarkannya…kemampuan berkhayal! Televisi maupun film memperlihatkan aspek yang ada, yang tertangkap oleh sutradara maupun lensa kamera, tapi ia tidak mampu memberi waktu untuk mengembangkan imajinasi dan penalaran.

Mungkin itu sebabnya saya kurang suka menonton film yang sudah saya baca terlebih dahulu versi cetaknya. Terkadang ekspektasi terhadap karakter dan pertokohan lebih kuat di dalam imajinasi daripada di dalam tampilan film. Rasanya saya tidak sendirian dalam hal ini, seorang teman berkomentar setelah menonton film ‘Ayat-ayat Cinta’: “Ah, nyebelin…lain dari bukunya, di film Maria itu sempat sembuh dan mereka hidup bertiga satu rumah.” Ya, sebenarnya sih keadaan Maria di saat sakit dan menjelang kematiannya itu yang sangat kuat membawa pesan kemanusiaan buku ‘Ayat-ayat Cinta’, tetapi film yang terlalu terpaku pada buku bisa jadi tidak akan menarik bagi pemirsa layar kaca maupun layar lebar.

Ketika dahulu menonton film televisi ‘Dunia Tanpa Koma’, rasanya tidak sabar ingin mencari dan membaca versi cetaknya saja. Pergulatan pikiran, maupun kekuatan karakter (walaupun berhasil ditampilkan dengan baik oleh para pemain dan sutradara) rasanya akan lebih pas bila saya kembangkan sendiri dalam imajinasi. Bila kehilangan satu episode saja bisa jadi ada hal penting yang terlepas dari pengamatan.

Dengan buku tidak ada adegan yang terlepas, karena setiap saat ada kemungkinan untuk kembali lagi membaca bagian yang sudah lalu. Hal itu terutama sering saya lakukan ketika membaca buku karangan Agatha Christie, atau cerita misteri lainnya.

Dari buku fiksi saya memang banyak juga belajar tentang karakter dan emosi manusia. Dari buku ilmu pengetahuan dan teknologi saya belajar banyak hal-hal baru dalam dunia pengetahuan. Setiap buku menyumbang isi dari memori di komputer tercanggih ciptaan Tuhan yang harus saya jaga ini…

Banyak orang yang karena keterbatasan mereka tidak bisa memperoleh jendela dunia ini, karena itu tidak ada salahnya bila kita yang mampu ikut menolong memberikan jendela-jendela itu.

Para blogger yang sedang bersiap-siap menyambut Pesta Blogger 2008 rupanya menyadari hal ini. Karena itu salah satu dari bagian gerakan “blogging for society” menyertakan acara menyumbang buku bagi orang-orang yang membutuhkannya (lihat http://1000buku.dagdigdug.com/faq/ dan http://1000buku.dagdigdug.com/2008/08/29/kumpul-blogger-kumpul-buku/).

Disamping kegiatan kumpul 1000 buku itu, ada juga kegiatan menyumbang buku untuk tunanetra. Caranya? Bisa dengan memberi bantuan tenaga untuk mengetik buku, atau bagi penulis bisa memberikan izin pemakaian soft copy bukunya agar bisa diterbitkan dalam buku Braille. (Untuk lebih jelasnya baca di http://www.mitranetra.or.id/puisi/)

Ada banyak kegiatan sejenis yang menantikan uluran tangan anda. Ayo kumpulkan buku-buku yang tidak anda baca lagi, dan sumbangkan! Atau…anda mau menyumbang buku yang baru? Lebih indah lagi!

Tuesday, 2 September 2008

Give Earth Her Time to Breath...only ten minutes!

Bahasa Indonesia:

Menggelapkan dunia: Pada tanggal 17 September 2008 dari pukul 21:50 sampai 22:00 (waktu setempat) diusulkan untuk mematikan semua lampu, bila memungkinkan juga semua peralatan listrik, supaya planet bumi bisa "bernafas".

Bila banyak yang ikut serta dalam kegiatan ini maka energi yang terhemat sangat luar biasa. Hanya sepuluh menit saja, dan lihat apa yang terjadi.

Ya, hanya sepuluh menit dalam kegelapan, nyalakan lilin...
Perhatikanlah, kita bernafas, demikian juga dengan planet kita.
Ingatlah bahwa persatuan itu adalah kekuatan, dan Internet bisa sangat berpengaruh...bahkan bisa menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa!

Bagikan berita ini, bila anda memiliki teman di negara lain, kirimkanlah berita ini melalui e-mail.


ESTE APAGÓN SERÁ DE 21:50 A 22:00, A LA MISMA HORA LOCAL DE CADA PAÍS EN TODO EL MUNDO.
On Wendesday, September 17, 2008, I invite people around the world to turn off their lights for ten minutes – from 9:50pm to 10:00pm in their local time zone.


Castellano:
Oscuridad mundial: En Septiembre 17, 2008 desde las 21:50 a las 22:00 horas.
Se propone apagar todas las luces y si es posible todos los aparatos eléctricos, para que nuestro planeta pueda 'respirar'.
Si la respuesta es masiva, la energía que se ahorra puede ser brutal.
Solo 10 minutos y vea que pasa.
Si estamos 10 minutos en la oscuridad, prendamos una vela y simplemente la miramos y nosotros estaremos respirando y nuestro planeta.
Recuerde que la unión hace la fuerza y el Internet puede tener mucho poder y puede ser aun algo más grande.

Pase la noticia, si usted tiene amigos que viven en otros países envíeselo a ellos.

Ingles:
Darkness world: On September 17, 2008 from 21:50 to 22:00 hours.
Proposes to delete all lights and if possible all electrical appliances, to our planet can 'breathe'.
if the answer is massive, energy saving can be brutal.
Only 10 minutes, and see what happens.
Yes, we are 10 minutes in the dark, we light a candle and simply
Be looking at it, we breathe and our planet.
Remember that the union is strength and the Internet can be very power and can
Even do something big.

Moves the news, if you have friends to live in other countries send to them.

Chino:
黑暗的世界:對2008年9月17日從21時50分至22:00 。
這是建議關掉所有電燈及可能的話,所有電器,使我們的星球可以'呼吸' 。
如果答案是大規模,節能,可殘酷的。
只有10分鐘,並看看會發生什麼情況。
如果我們10分鐘,在黑暗中,成衣蠟燭和簡單的外觀和我們將呼吸和我們的星球。
記得當時的聯盟是實力和在互聯網上可以有很大的權力和,甚至可以更大一些。
通過新聞.

Portugués:
Escuridão mundial: No dia 17 de Setembro de 2008 das 21:50 às 22:00 horas
propõe-se apagar todas as luzes e se possível todos os aparelhos eléctricos, para o nosso planeta poder 'respirar'.
Se a resposta for massiva, a poupança energética pode ser brutal.
Só 10 minutos, para ver o que acontece.
Sim, estaremos 10 minutos às escuras, podemos acender uma vela e simplesmente
ficar a olhar para ela, estaremos a respirar nós e o planeta.
Lembrem-se que a união faz a força e a Internet pode ter muito poder e podemos
mesmo fazer algo em grande.

Passa a notícia, se tiveres amigos a viver noutros países envia-lhes.

Árabe:
ظلام العالم : على 17 سبتمبر 2008 من الساعة 21:50 الى 22:00
ويقترح حذف جميع الانوار واذا امكن جميع الاجهزه الكهرباءيه ، ويمكن لكوكبنا 'تنفس'.

اذا كان الجواب هاءله ، ويمكن الاقتصاد في استهلاك الطاقة وحشية.
خلال 10 دقائق فقط ، ونرى ما سيحصل.
نعم ، نحن على 10 دقائق في الظلام ، ونحن على ضوء شمعة وببساطة
ان النظر اليها ، ونحن نتنفس وكوكبنا.
نتذكر ان الاتحاد هو القوام وشبكة الانترنت يمكن ان تكون بالغة القوة ويمكن
حتى تفعل شيئا كبيرا.
التحركات الاخبار .

Francés:
Darkness monde: Le 17 Septembre 2008 de 21:50 à 22:00 heures
Propose de supprimer toutes les lumières et, si possible, tous les appareils électriques, à notre planète peut 'respirer'.
Si la réponse est massive, les économies d'énergie peuvent être brutales.
Seulement 10 minutes, et de voir ce qui se passe.
Oui, nous sommes 10 minutes dans le noir, on allume une bougie et simplement
Être regarder, que nous respirons et de notre planète.
N'oubliez pas que l'union fait la force et l'Internet peuvent être très électricité et peut

Même faire quelque chose de grand.
Déplace l'actualité.

Griego:
Σκοταδι κοσµο: Στις 17 Σεπ του 2008 απο 21:50 εως 22:00 ωρες
Προτεινει να διαγραψει ολα τα φωτα και αν ειναι δυνατον, ολες τις ηλεκτρικες συσκευες, να πλανητη µας µπορει να «αναπνεει».
Εαν η απαντηση ειναι µαζικη, η εξοικονοµηση ενεργειας µπορει να ειναι κτηνωδης.
Μονο 10 λεπτα, και να δουµε τι συµßαινει.
Ναι, ειµαστε 10 λεπτα στο σκοταδι, θα αναψει ενα κερι και απλα
Να εξεταζουµε, που αναπνεουµε και τον πλανητη µας.
Θυµηθειτε οτι η ενωση ειναι η δυναµη και το Internet µπορει να ειναι πολυ δυναµη και µπορουν να
Ακοµη κανουµε κατι µεγαλο.

Μετακινησεις την ειδηση, αν εχετε φιλους να ζουν σε αλλες χωρες να στειλουν τους και τους.


Alemán:
Darkness Welt: Am 17 September 2008 von 21:50 bis 22:00 Uhr
Schlägt vor, alle Lichter zu löschen und, wenn möglich, alle elektrischen Geräte, die unseren Planeten kann 'atmen'.
Wenn die Antwort ist derb, Energieeinsparung kann brutal.
Nur 10 Minuten, und sehen Sie, was passiert.
Ja, wir sind 10 Minuten im Dunkeln, wir Licht einer Kerze und einfach
Sei es bei der Suche, die wir atmen, und unseres Planeten.
Denken Sie daran, dass die Gewerkschaft ist Stärke und das Internet kann sehr Macht und können
Selbst etwas tun groß.

Verschiebt den Nachrichten.

Ruso:
Ночь на Земле: 17 сентября 2008 года с 21:50 до 22:00 часов отключите все огни, и, по возможности, все электроприборы, чтобы наша планета могла спокойно 'подышать' хоть 10 минут.
В случае массового участия, этот проект приведет к огромному сбередению энергии по всему земному шару. Всего только 10 минут, и вы увидите как важен будет результат.
За эти 10 минут можно просто посидеть в темноте, зажечь свечу и посидеть при ее свете. А за это время наша планета успеет спокойно отдышаться.
Помните, что совместное действие - это мощь, а Интернет - это великая сила, вместе мы можем добиться очень многого.

Сообщи о нас другим!!!

Holandés:
Darkness wereld: Op 17 September 2008 van 21:50 tot 22:00 uur
Stelt voor om alle lichten en zo mogelijk alle elektrische apparaten, om onze planeet kan 'ademen'.
Indien het antwoord is enorm, de energiebesparing kan worden wreder.
Slechts 10 minuten, en zie wat er gebeurt.
Ja, we zijn 10 minuten in het donker, we licht van een kaars en gewoon
Wordt kijken, we inademen en onze planeet.
Vergeet niet dat de unie is kracht en het internet kan zeer macht en kan
Zelfs iets te groot.

Vertrokken het nieuws.

Ayo Berbagi, Bukakan Jendela Dunia Bagi Sesama...

Minggu, 31-08-2008 11:57:28 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Gaya Hidup

Bagi saya, ungkapan “buku adalah jendela dunia” sangat bermakna, karena buku memang membukakan mata saya terhadap banyak hal yang ada di dunia ini. Saya sudah bisa bermimpi tentang Eiffel dan Louvre, sebelum bisa menjejakkan kaki kesana, karena membaca buku. Saya sudah bisa membayangkan alam di dasar laut (walaupun sampai sekarang tidak bisa menyelam) karena buku dari Jules Verne.

Buku adalah dunia yang menawarkan berbagai pengetahuan dunia. Televisi juga memperkaya pengetahuan saya, tapi ada satu hal yang tidak sanggup ditawarkannya…kemampuan berkhayal! Televisi maupun film memperlihatkan aspek yang ada, yang tertangkap oleh sutradara maupun lensa kamera, tapi ia tidak mampu memberi waktu untuk mengembangkan imajinasi dan penalaran.

Mungkin itu sebabnya saya kurang suka menonton film yang sudah saya baca terlebih dahulu versi cetaknya. Terkadang ekspektasi terhadap karakter dan pertokohan lebih kuat di dalam imajinasi daripada di dalam tampilan film. Rasanya saya tidak sendirian dalam hal ini, seorang teman berkomentar setelah menonton film ‘Ayat-ayat Cinta’: “Ah, nyebelin…lain dari bukunya, di film Maria itu sempat sembuh dan mereka hidup bertiga satu rumah.” Ya, sebenarnya sih keadaan Maria di saat sakit dan menjelang kematiannya itu yang sangat kuat membawa pesan kemanusiaan buku ‘Ayat-ayat Cinta’, tetapi film yang terlalu terpaku pada buku bisa jadi tidak akan menarik bagi pemirsa layar kaca maupun layar lebar.

Ketika dahulu menonton film televisi ‘Dunia Tanpa Koma’, rasanya tidak sabar ingin mencari dan membaca versi cetaknya saja. Pergulatan pikiran, maupun kekuatan karakter (walaupun berhasil ditampilkan dengan baik oleh para pemain dan sutradara) rasanya akan lebih pas bila saya kembangkan sendiri dalam imajinasi. Bila kehilangan satu episode saja bisa jadi ada hal penting yang terlepas dari pengamatan.

Dengan buku tidak ada adegan yang terlepas, karena setiap saat ada kemungkinan untuk kembali lagi membaca bagian yang sudah lalu. Hal itu terutama sering saya lakukan ketika membaca buku karangan Agatha Christie, atau cerita misteri lainnya.

Dari buku fiksi saya memang banyak juga belajar tentang karakter dan emosi manusia. Dari buku ilmu pengetahuan dan teknologi saya belajar banyak hal-hal baru dalam dunia pengetahuan. Setiap buku menyumbang isi dari memori di komputer tercanggih ciptaan Tuhan yang harus saya jaga ini…

Banyak orang yang karena keterbatasan mereka tidak bisa memperoleh jendela dunia ini, karena itu tidak ada salahnya bila kita yang mampu ikut menolong memberikan jendela-jendela itu.

Para blogger yang sedang bersiap-siap menyambut Pesta Blogger 2008 rupanya menyadari hal ini. Karena itu salah satu dari bagian gerakan “blogging for society” menyertakan acara menyumbang buku bagi orang-orang yang membutuhkannya (lihat http://1000buku.dagdigdug.com/faq/ dan http://1000buku.dagdigdug.com/2008/08/29/kumpul-blogger-kumpul-buku/).

Disamping kegiatan kumpul 1000 buku itu, ada juga kegiatan menyumbang buku untuk tunanetra. Caranya? Bisa dengan memberi bantuan tenaga untuk mengetik buku, atau bagi penulis bisa memberikan izin pemakaian soft copy bukunya agar bisa diterbitkan dalam buku Braille. (Untuk lebih jelasnya baca di http://www.mitranetra.or.id/puisi/)

Ada banyak kegiatan sejenis yang menantikan uluran tangan anda. Ayo kumpulkan buku-buku yang tidak anda baca lagi, dan sumbangkan! Atau…anda mau menyumbang buku yang baru? Lebih indah lagi!

Books are the window to the universe. This statement is so true for me! I've been dreaming about the Eiffel tower and Louvre long before I could fly over to France.
I can imagine the life under the sea from Jules Verne's story eventhough I've never been able to dive into the sea...even today!

Indonesian bloggers were also concern about the availability of books for those who don't have access to books, so one activity in its "blogging for society" is collecting books for those whose in need of it.

This post is to make people aware to the activity
, but also to remind them that there are other community who also in need of books...those visually impaired people. I think it is important to help providing books in Braille. Listening is off course easier than reading, so we do need to help make reading easier for them! Books in Braille is much more expensive than normal printed books. So, a writer who can help giving the soft copy of his/her books to the Yayasan Mitranetra is really something helpful for them.

Helping out with book donation is opening the window to others...

Saturday, 30 August 2008

Obama was Indonesian?! Hmm...

I found this post about Obama's citizenship in his youth. And a further browsing brought me to see this news.

Sometimes it is not important what was stated in the ID card here in Indonesia (although Barry Soetoro was obviously underage for an ID card), my husband was still using his ID card wrote that he is Buddhist years after he became Catholic. Our IDs were also stated that we were single although we've been married for several years, and the legal papers obtained for our civil marriage also came through recommendation letters from the same offices that produce our ID cards. (But, there is a big improvement in system nowadays).

An investigation into Indonesian citizenship law and a review of Obama's biography and travels suggest the Illinois senator at one point may have been a citizen of Indonesia. That would not necessarily disqualify Obama to run for president, but it could raise loyalty concerns.


I just wonder if his loyalty is looking to the bright intelligent man he is now, or to a young innocent boy who was just follow his parents' will...

Indonesians are really proud of having a piece of Obama's life here. His fan is not only from the high rank politician like Soedarsono, but also from the grassroot citizen, like his former classmates or even some young generation who adore younger face as the world leader (see more in YouTube).

I've read in the Indonesian Readers' Digest that Obama's former classmates regretted that they did not have any answer to their supporting letter. It is obvious that Obama should be more careful in showing his relation to his former "host" country if any small issue can be used against him!

I think the Indonesian law made Obama an Indonesian boy if his biological father is Indonesian. I don't know the situation back then, but it was surely easier to say that Barry Soetoro is Indonesian than claiming him as American for procedural reason. I don't think his previous school record can be made a proof of his trail of citizenship!

As an outsider (and I'm not really interested in talking about politic) I found the news about his previous citizenship is ridiculous. I can only say: "God Bless You, Senator Obama!"

Saturday, 23 August 2008

Generasi Muda Kenalan dengan Reog Ponorogo


Sabtu, 23-08-2008 09:57:03 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Gaya Hidup

Sebagai puncak perayaan peringatan Hari Kemerdekaan RI di sekolah Stella Maris, Serpong (BSD) dihadirkan pertunjukan reog Ponorogo. Pak Andy, guru bahasa Inggris yang lebih dikenal murid-muridnya sebagai Mr. Andy, dalam sambutan perkenalan sempat bertanya milik siapakah kesenian reog itu? Sekolah memang merupakan tempat pembelajaran di luar keluarga. Karena itu saya sangat menghargai upaya Sekolah Stella Maris untuk memperkenalkan kesenian lokal ini kepada murid-muridnya.

Perkenalan yang terjadi memang tidak lama dan hanya sekedar berkenalan dengan berbagai macam tarian Reog Ponorogo, seperti tarian singa barong, tarian jaran kepang, maupun penampilan warok. Unsur-unsur “mengadu ilmu” dibatasi sekedar penampilan tarian, maupun ketahanan fisik penampil. Hal ini cukup mendidik mengingat usia penonton bervariasi dari murid KB/TK hingga murid SMA.

Sifat anak-anak yang penuh keingintahuan tampak terlihat ketika saya melihat beberapa anak tampak bercakap-cakap dengan pemain musik yang mengiri penampilan reog itu. Mungkin mereka bertanya mengenai alat musik maupun tariannya sendiri. Di sudut lain lapangan beberapa anak SD tampak meniru gaya langkah warok sambil tetap asyik menonton. Ada juga bebarapa gadis kecil yang mengikuti gerakan gemulai wanita penari jaran kepang.

Dari jalan-jalan bersama “om gugel”, saya baru mengerti bahwa tarian jaran kepang tidak boleh disebut sebagai tarian kuda lumping. Walaupun sama-sama memakai tampilan kuda (jaran), keduanya tidak sama. Pada reog tradisional peran penari wanita ini juga ternyata diperankan oleh lelaki yang berpakaian wanita. Dalam acara kemarin reog yang ditampilkan adalah reog modern sehingga penari wanitalah yang tampil dalam tarian jaran kepang.

Reog rupanya merupakan hasil dari perlawanan seorang abdi kerajaan Majapahit bernama Ki Ageng Kutu. Sang abdi yang tidak senang melihat pemerintahan yang semakin korup, meninggalkan kerajaan dan mendirikan perguruan seni bela diri bagi para pemuda. Harapannya generasi muda ini akan menjadi penerus dan penyelamat Majapahit di kemudian hari. Pertunjukan seni reog merupakan cara Ki Ageng Kutu menyindir sang raja, dan membangun perlawanan rakyat lokal melalui kegiatan seni yang populer di masyarakat.


Sejarah dan rincian penampilan reog yang lebih lengkap bisa dibaca di portal Reog Ponorogo ini. Ternyata portal ini malah jauh lebih lengkap daripada di Wikipedia Indonesia. Wikipedia Indonesia malah berisikan keterangan lebih lengkap untuk verifikasi bahwa tari barongan adalah berasal dari Indonesia, atau lebih tepatnya dari reog Ponorogo (lihat disini).

Sayang sejarah reog ini tidak sempat diperkenalkan di sekolah, tapi setidaknya generasi muda yang ada disana kemarin sudah melihat bagaimana yang namanya reog Ponorogo. Seperti komentar anak saya: “Oh ini ya yang dicuri Malaysia itu?” Kalau kesenian ini kemudian diwariskan di negeri seberang (lihat juga Musical Malaysia, atau Dance Malaysia , serta Portal Kementerian Perpaduan Kebudayaan, Kesenian & Warisan Malaysia) oleh perantau Indonesia yang beranak pinak di Johor, sementara generasi muda Indonesia tidak tahu wajah reog, apakah bisa kita menuduh orang mencuri sesuatu yang tidak pernah generasi muda ini miliki?

Mengenal dan menyayangi kekayaan budaya sendiri akan timbul bila ada kedekatan, bukankah ada pepatah “Tidak kenal maka tak sayang?” Ayo, ramai-ramai mengajak generasi muda mengenali warisan budaya lokal!

We can't claim that Malaysia is stealing our heritage if we do not keep and preserve it. Reog, or known in Malaysia as Barongan, should be introduce to students so they know their heritage. Having this young generation's attention to our local culture can perhaps preserve the right to claim it our heritage. Reog is originally came from Java, as the artistic way of showing criticism to the King and the corrupted system in his Kingdom. Then the Javanese who went to Johor introduced it there. That's how mixed culture was started...

Wednesday, 20 August 2008

Thinking about Writing

I think writing for an online blog is a lot more difficult than writing for the local mainstream media. Online media has varied readers, and it has the persistency of content, as it would stay longer than the printed version of the conventional media. In that case, we do need to be very careful in checking links, and verified facts. Off course online articles in a blog can be corrected, but to make a correction for the online articles in a citizen journalism website is a little bit more complicated. So, we do need to be very objective (blog or opinion is always subjective, but we need to read other opinions and be objective before we can present a more reliable opinion)!

I’ve been through some thinking about my activity as a citizen reporter. I did not write for OhmyNews International for about three months (or more?), some friends from the Indonesian Heritage Society (IHS) were also asking me to write for the newsletter but I did not do it. Time management is my biggest problem…

I’ve got personal problems with the twins. They are going into an elementary school without the ability to read (they are going to be six next October). Two psychologists consulted before entering them to the elementary school said that it would help to boost their curiosity to get into reading if their friends can read. So, they thought it would be better to send them to elementary school than sending them into another kindergarten. They’ve got good IQ score (yes, their class teacher-now- said they are very clever as long as they are not asked to write down their answers).

That one “little problem” is affecting almost all my activities. “Little” I said, as they are not six years old yet. There is the possibility that they are not ready because they were born prematurely. If we are using the calendar according to the 9 months pregnancy they should be counted 6 years old in November. I’ve read a book that we should consider premature babies in their “true calendar” not the “birth-date calendar”.

That’s a little bit about my problem in stealing time to write… Writing a diary like this is easier than writing an article. Writing a short article for wikimu is easier as I wrote them in Indonesian, my mother tongue…

The urge to write for wikimu is higher than for OMNI or IHS’ newsletter, because the readers of wikimu are local citizens. I think it is more important to share with my local community. It’s not because I think that international community is not important…but their ability to search for information and their willingness to study Indonesian culture sometimes are higher than what general Indonesians had. Writing for such a local citizen journalism website seemed to success triggering citizens to write their own exploration, and also firing the topic into the mainstream media’s attention.

I rarely write about architecture in my blog. I think I should try to change that. Perhaps I was afraid of plagiarism, or because I did not intend to make this blog as my professional blog. The main idea of this blog is actually not about me, it should be about Indonesia. As Indonesian people tended to appreciate all those foreign tourism sites more than our local heritage, I did wrote about Louvre to remind local citizens that we do need to preserve things before we could get into that stage! Look at the Citra Niaga Complex, it won the Aga Khan Award, but now it is neglected and in poor condition…To have something last over centuries (like the Borobudur temple) we do need to put attention and money into it.

Several days ago, a friend commented that we should think about money. If we work only for being in love with the work, it wouldn’t be worthwhile. “If you do something,” he said, “be more serious into it, and think how to get money from it.” I remember Marcus Buckingham, the writer of “Go put your strengths to work”, wrote in his book:
What happens when you feel lots of I (Instinct), G (Growth), N (needs), but you just can’t seem to generate any S (Success)? What about those all-appetite, no-ability activities?

Well, in common parlance, we have a word for them. We call them hobbies. And they stay hobbies because no one is paying you to do them. In hobby world you can indulge your desire to throw oil paint onto a canvas or hack away with your seven iron or fill your shower with song, no one really cares that your performance is significantly subpar-or, in the case of the seven iron, significantly over par-because your livelihood doesn’t depend on your performance.

But back in the real world, the world of work and wages and customers and expectations, we quickly dismiss this as a luxury.

Both comments are underlining the spirit of the world today…we should be financially independent to be have freedom of choosing our field of work. But, those who are lucky enough could also be able to turn their hobbies as their deep well of money…

Yet, citizen journalism should be seen as a way of participating to the enhancement of global peace, universal togetherness on earth…

I’m still in searching of balancing the idealism of life and the needs of material/financial support to enrich the content of living in that idealism.


Read also old posts (English):
http://khazanahpikir.blogspot.com/2008/01/old-media-temporary-message.html
http://khazanahpikir.blogspot.com/2008/01/catatan-jurnalis-warga-hari-ini.html

Post in Indonesian language:
http://khazanahpikir.blogspot.com/2008/05/antara-idealisme-dan-materialisme.html

Sunday, 17 August 2008

Acara Seru Bersama Tetangga Merayakan Kemerdekaan RI


Minggu, 17-08-2008 15:59:02 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Peristiwa

Setelah upacara bendera di sekolah, anak saya ingin cepat-cepat pulang untuk mengikuti perlombaan di lingkungan RW kami. Tahun ini para ketua RT rupanya bersepakat untuk mengadakan acara perayaan bersama. Setahun sekali rame-rame ngumpul dan bermain bersama!

Sebenarnya di sekolah juga ada perlombaan, tapi sebagian besar sudah dilaksanakan beberapa hari sebelumnya. Yang unik anak-anak SMP berinisiatif olah raga sambil berpakaian unik, yang pemuda berdaster baik pinjaman dari ibu (rupanya meniru gaya MOS kakak SMA kemarin) sambil menendang bola kaki, dan yang pemudi bertanding basket sambil menggunakan sarung.

Anak saya lebih antusias dengan lomba di rumah karena ada lomba bersepeda lambat. Di RW kami ada berbagai macam permainan yang diperlombakan, acara dimulai dari kelompok umur Taman Kanak-kanak ke bawah, semakin siang semakin tinggi tingkat umur pesertanya.

Seru sekali menyaksikan anak-anak balita berlari memindahkan bendera merah putih, sementara orang tua berpisah di kedua ujung lapangan, satu untuk membantu menyemangati ketika mengambil bendera, sementara yang lainnya mengarahkan ke tempat tujuan yang benar (tidak nyasar ke kaleng orang).

Setelah itu, masih bagi kelompok anak usia dini ini, ada permainan memindahkan kelereng memakai sendok. Kelereng yang jatuh boleh dikejar dan dinaikkan kembali ke sendoknya.


Yang tidak kalah serunya adalah permainan naik sepeda lambat, tentunya yang paling lambat yang menang. Sebelum acara dimulai para bapak-bapak panitia memberikan contoh bagaimana menaiki sepeda dengan lambat, dan tentu saja sorak sorai segenap warga segera menyemangati bapak-bapak yang menghindari tabrakan sambil tetap menjaga keseimbangan.

Acara anak-anak yang paling ramai adalah lomba makan kerupuk. Celetukan ramai disana-sini, ada yang kakaknya ikut makan kerupuk adiknya, ada juga bapaknya yang ikut mengunyah. Ada lagi yang termasuk cepat tapi menyisakan banyak sekali remah kerupuk di kakinya. Tingkah polah anak-anak ini lucu, dari yang gemas…sampai yang akhirnya tidak tahan dan memegang kerupuknya untuk dimakan! Menang kalah tidak terlalu penting, karena rupanya ada juga anak yang sehari-harinya terlarang makan kerupuk abang-abang ini, jadi yang penting kerupuknya bisa habis…he…he…he…kesempatan!


Acara keluarga dibuka dengan acara lomba lari memakai bakiak. Seru sekali menyaksikan keluarga-keluarga yang dengan kompak berlomba cepat walaupun tinggi ayah, ibu maupun anak seringkali jauh berbeda.

Ada satu permainan yang hampir lupa tercatat adalah perlombaan makan pisang. Tapi pasangan yang akan memakan pisang itu harus berdiri masing-masing dengan mata tertutup, jadi mereka harus mampu menemukan pasangan kelompoknya. Yang saya saksikan kebetulan perlombaan antar petugas keamanan. Sepertinya masih ada lagi pertandingan seru lainnya tapi karena anak-anak sudah kecapaian dan lapar terpaksa tidak saya ikuti lagi.


Permainan panjat pinang memang kurang biasa di lingkungan rumah saya, tapi beberapa RW lain yang biasanya mengadakan lomba panjat pinang juga tidak terlihat memasang tiang pinang. Mungkin juga dana untuk kegiatan perayaan kemerdekaan tahun ini agak seret, apalagi setelah kenaikan harga bahan bakar, masyarakat sudah bersiap-siap lagi dengan kenaikan harga menjelang Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Tidak heran kalau sejak sebulan sebelumnya, di beberapa tempat yang saya lalui, terlihat juga pemuda-pemudi yang menyodorkan kotak sambil melambai-lambaikan bendera merah putih meminta sumbangan untuk penyelenggaraan perayaan hari kemerdekaan Indonesia.

Bagaimana perayaan di tempat anda, meriah?!

Today is the celebration of our independence day, actually there should be a lot reflections to do...but daily life is already stressing, so why don't we just enjoy the moment? Our local community is having a lot of games, special games for celebration and to build better communication between citizens. I've just been invited to go to an open air dinner, but I need to upload some articles first. It's going to be a long night...

An experiment

 

This is an experiment on blogging through picassa. One problem for my online activity is my being technophobie...I should try to learn a lot of things...I don't even know how many readers are reading this blog. That's not important actually, I'm not seeking popularity...I'm only trying to voice out my voice!

This is my picture with my twins, we are using traditional clothes. Actually this picture should be related to the previous post "Mencintai Indonesia Lewat Pakaian" (Loving Indonesia through clothes...actually I mean through the traditional textiles of Indonesia). The picture I used in that article are women wearing batik, this picture shows another type of textiles. I used the weaving clothes from Sumatera together with "kebaya encim".
Posted by Picasa

Mencintai Indonesia Lewat Pakaian


Sabtu, 16-08-2008 08:19:34 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Opini

Mencintai Indonesia bisa dengan berbagai cara. Salah satu cara yang mudah, terutama bagi kaum perempuan, adalah dengan ikut mempopulerkan kain tradisional.

Belum lama ini saya terkejut ketika berkunjung ke kantor salah satu kontributor wikimu. Rupanya kaum perempuan yang bertugas di back office sepakat untuk setiap hari Jumat menggunakan baju batik. Tidak ada perintah, tapi gerakan "mendadak batik" (seperti judul yang pernah ditulis oleh Gus Wai) rupanya menular ke kantor itu.

Menarik sekali menyaksikan warna-warni ceria batik di antara ruang kantor yang tertata terbuka (open space), terutama karena yang memakai juga manis-manis dan ceria. :)

Tidak lama kemudian saya lihat guru-guru di sekolah anakku juga ikut mengenakan batik (bebas, bukan seragam) ke sekolah. Sebuah contoh menarik yang pasti akan menularkan kecintaan pada kain tradisional ke murid-muridnya.

Menurut saya, cara ini adalah salah satu wujud kecintaan terhadap Indonesia yang diungkapkan lewat pakaian. Tindakan ini bukan sekedar karena memakai pakaian batik akan menjadikan batik Indonesia lebih populer dan tidak bisa dengan sembarangan diaku bangsa lain (baca juga http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=2056), tetapi juga bisa membantu berlangsungnya industri batik di tanah air.
Dengan maraknya pemakai batik, bisa dipastikan industri UMKM juga bisa bertumbuh. Pemakai batik yang cukup merata di berbagai kalangan selain membantu perkembangan industri batik besar juga akan menghidupkan kembali industri batik kecil dan menengah.

Nelson Mandela mulai mempopulerkan batik Afrika Selatan sejak pulang dari kunjungannya ke Indonesia (baca juga http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=9597). Jadi bisa dikatakan setiap bangsa akan punya potensi untuk mengembangkan batik versi negaranya. Alangkah menariknya bila gerakan mempopulerkan batik ini memang dimulai dari negara kita.

Indonesia dikenal di dunia internasional karena kekayaan budaya tekstil tradisional yang juga menjadi warisan turun temurun dalam keluarga (pusaka). Selain batik, masih banyak tekstil tradisional lain yang bisa dikembangkan juga. Ada tenun dan tenun ikat, serta masih ada juga jumputan, sulaman (embroidery), ataupun sarita dan mawa dari Toraja. Kekayaan budaya tekstil Indonesia dengan segala pengaruh kebudayaan yang masuk dan mempengaruhi kebudayaan lokal menjadi salah satu topik hangat yang dipelajari para pencinta dan ahli tekstil dunia.

Bagaimana dunia mengenal kain-kain tradisional ini tanpa melanggar aturan pakai secara tradisional sangat tergantung pada para desainer pakaian yang akan mengembangkannya. Tetapi peran komunitas kecil seperti kantor maupun sekolah akan membantu popularitas pemakaian di masyarakat. Diharapkan dari kecintaan ini pertumbuhan desain, kualitas, serta pemberdayaan masyarakat industri kecil juga akan terangkat.

Menjelang perayaan kemerdekaan, mungkin kita perlu bertanya: "Sudahkah saya mencintai Indonesia?"

Tuesday, 12 August 2008

Seeing Nias through the eyes of Christina Kreps

Yesterday I went to the IHS' library to see the presentation from Christina Kreps, an expert from University of Denver.

I was hoping to see more about the traditional architecture as the invitation e-mail stated "This is a great chance to hear about the museum in Nias and the work on restoring traditional houses there. Do try to attend if you have an interest in Nias, in museums or in traditional architecture." The presentation wasn't actually what I was coming for (but perhaps I did not hear it? I came late, the shuttle bus schedule was not reliable...). Yet, I did have some other things to note.

First, she showed us how museum workers should open their minds to simple, cheap, and available things around them in providing a better storage for the museum collections. The classical problem of museum is always the lack of financial support. Then, the lack of knowledge for those persons in charge. In the big cities, like Jakarta, Jogjakarta, or Bandung, perhaps we can expect a lot of changes will come from the younger generations.

In some cases, there is still the need to improve our performance. I was told before that some young researchers who went to Netherland did not even understand Dutch. So how would they make their research on the old Dutch language? Even those who fluently speak Dutch could have difficulties in translating an old scripture written in old Dutch.

Christina Kreps had brought two Indonesians to be trained in the University of Denver. This programme is funded by Ford Foundation and the Asian Cultural Council. One trainee came from Nias, Nata'alui Duha, while the other one is Novia Sagita. It is encouraging to hear some friends comments on Novia Sagita who was presenting the research into oral tradition and history of ikat weaving design (through a project in Sintang, Kalimantan) November last year in the National Museum. She was able to impress her audience, it means that she was able to communicate her project to laymen.

Then, Christina documented how the traditional houses was able to stand up despite the hard blow of the earthquakes. That's something important as the traditional construction without nails is also an earthquake resistant structure, the local wisdom that we tend to forget in these recent days. Imagine if the earthquake happened in Jakarta...Will the construction of Plaza Indonesia remain intact like that? I knew that they were using a special construction system to avoid the impact of earthquakes, and I think it would not survive big earthquakes like those traditional houses in Nias.

She was also stressing out the importance of knowing the different living cultures in order to gain the best result on a tight budget. Integrating local resources and local knowledge is important in proceeding to a better result. A result that is responsive to the real need of the community, the true agent to keep all those heritages alive!

If people in the blogosphere are talking about the expert journalism, then it is really what we as citizen need. The problem is that some of those experts are too busy to provide an article with more popular way of featuring his or her subject. Journalists and bloggers (as netizen) are the bridge of those experts to a larger community. This is why we do need integrity, as we are providing information service that is need to be trusted!

Yesterday my father came to replace me picking up the children. I knew that some of my Indonesian friends would think that I was just spending money on transportation, and loosing time by attending to an event like this. Yes, it is for personal development! But as I knew citizen journalism, perhaps I could also share it through the cyber world. Hopefully it would help spread out the knowledge. It would then be really useful!

Pesta Blogger 2008 is coming...



Pesta Blogger 2008 is approaching. From all the impressive logo proposals, it seems that Gage Batubara has made a simple design but powerful in its message. It shows two call out symbols, symbolizing the communication between bloggers, noting the interaction gained through the comment box. The five dots in five colors showed the diversity of opinions, the diversity of cultures, the diversity of human being involved in the blogosphere. They also have different sizes. Colors and sizes represents the community, in the idea that everybody in the community is free to voice their opinions, supporting each other opinions, or even being disagree without loosing the communication bubbles. I think that is the most important aspect of "blogging for society", to construct communication, to apply dialogue between cultures, between citizen and its government, between citizen and the mainstream media, between older generation and younger generation.

The organizer has made a nice pick! I do hope that this year there will be more international bloggers join the party. We do need more bridge bloggers, not only those with mainstream media background, but all of those bloggers who care about Indonesia. Indonesian society is colorful, but the size of the communication bubbles will be bigger if we are thinking in a more universal society. I do realize that it would be a huge work, and I believe that the organizer do know their priorities. At the moment I can only give ideas, so I'll wait and see the progress (keeping my fingers crossed for the invitation, he...he..he...) Hopefully there will be more bridge bloggers too!

With the spirit of the national awakening, hopefully blogging for society will roll on and on...for the sake of the nation and for the global world!

Sunday, 10 August 2008

Indonesia Bangkit


Minggu, 10-08-2008 14:45:04 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Peristiwa

Sebenarnya banyak orang yang mengharapkan Indonesia bangkit dan berhasil memenangkan godokan kawah candradimuka hantaman masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini. Keinginan untuk bangkit itu kemudian diwujudkan dalam bidang profesi masing-masing. Bukan hanya politisi yang bisa bekerja, dan tidak setiap orang tertarik untuk menjadi caleg dahulu baru bisa berkarya. Pameran “Indonesia Bangkit” yang sedang digelar di Museum Nasional sejak tanggal 8 sampai 15 Agustus 2008 ini mengangkat kepedulian para perupa dalam menghadapi kemelut bangsa.

Pameran ini menarik, karena selain memamerkan seni lukis di atas kanvas, juga terlihat karya seni pahat yang dikerjakan secara kelompok oleh Rumah Hobi. Uniknya, desain dari Kusworodjati ditampilkan oleh kelompok perupa dari Rumah Hobi di atas akar sisa pohon jati. Sisa pohon yang tadinya dibiarkan menjadi fosil di lahan bekas hutan kayu jati diambil dan dimanfaatkan sebagai media karya seni pahat. Desain dan pewarnaannya mengikuti inspirasi yang timbul dari bentuk akar tersebut.


Saya sudah terbiasa melihat kerajinan pahat akar dari Kendari, tapi dalam pameran ini permainan warna antara warna asli kayu dengan warna tambahan menjadikan karya ini lebih unik dan menarik.

Di antara hiasan merah putih yang menambah semarak ruang pameran, terlihat mata-mata bundar dari anak-anak yang polos, calon generasi penerus bangsa, dalam lukisan-lukisan karya Ahmad Su’udhi. Juga terlhat kehadiran candi Borobudur yang terus menginspirasi bangsa.

Di salah satu sudut terlihat karya patung yang menggambarkan Sumpah Palapa Gajah Mada, sementara tidak jauh daripadanya tampak gambaran pencarian sosok Satrio Piningit.

Nyoman Mawa menggambarkan “Pemandangan di Sawah” yang memperlihatkan sistim subak di Bali yang sejak dahulu seringkali tergambar dalam kartu pos dari Bali. Masih akankah semua ini ada? Atau akan hilang bersama menghilangnya bumi ini? Dan saat itu tersisa hanya “Keajaiban Borobudur” seperti yang terlukis oleh D. Sutia? Borobudur yang mengambang sendirian pada sebuah serpihan bumi yang tertinggal…